JEJAK LANGKAH KAKI
Minggu, 17 Juni 2012
Winter Sonata jadi Tujuan Wisata
Disiplin, Gingseng, hingga Kimchi
Minggu, 13 Maret 2011
Warga yang Cinta Produk Dalam Negeri
Salah satu kiat sukses China menjadi tuan rumah even olahraga akbar Asian Games dan Olympiade, yakni bangga dengan produk dalam negeri. Pemerintah dan masyarakat sangat aktif memperkenalkan produk kebanggaan mereka pada turis asing, mulai dari jamu, batu akik hingga sutera. Selama kunjungan di China pekan lalu, saya juga “diwajibkan” mengunjungi pabrik-pabrik ternama di Negeri Tirai Bambu tersebut
Hari pertama menapakkan kaki di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di Shanghai, saya dan rombongan sudah dibawa lokal guide, Johan, menuju pabrik pemintalan dan produksi kain sutra. Di pabrik ini, terlihat jelas kebanggaan bangsa China terhadap asset lokal yang kini sudah mendunia, yakni kain sutra.
Kepada rombongan, juru bicara pabrik, menjelaskan rute-rute perdagangan sutera zaman silam yang melegenda yakni Silk Road (jalur sutera). Selain itu, juga dijelaskan secara detail mengenai produksi kain sutera, mulai dari proses pemintalan kepompong ulat sutera hingga menjadi kain sutera yang bermutu tinggi.

Selain menyaksikan bagaimana produksi kain sutera secara langsung, kami juga diajarkan bagaimana cara memilih kain sutera yang baik dan bermutu tinggi. “Produksi kami selain bermutu tinggi juga higienis, karena tidak menyebabkan iritasi pada kulit pemakainya, ’’ ujar karyawan pabrik sutera tersebut.
Hal serupa juga saya alami saat menjejakkan kaki di Beijing. Selama 3 hari, praktis tour guide, Fung-fung, membawa kami ke sejumlah pabrik dengan produk unggulan yang sudah mendunia. Mulai dari pabrik obat-obatan, batu akik, teh, hingga jamu. “Semua pabrik tersebut milik negara. Memang 70 persen industri besar di China dimiliki negara. Ada juga yang dimiliki swasta, tapi tidak banyak. Kami diwajibkan untuk membawa turis asing ke pabrik-pabrik itu agar bisa memperkenalkan produk kami ke manca negara,’’ jelas Fung-fung yang mengaku pernah 3 tahun bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di Jakarta.
Kata “wajib” yang disebut Fung-fung, benar-benar dijalankan. Tidak satupun pabrik yang ada dalam jadwal tour di Beijing, yang luput dari kunjungan saya dan rombongan. “Tidak membeli obat atau batu akik tidak masalah. Yang penting, kami sudah membawa turis ke pabrik-pabrik itu dan memperkenalkan produksi China yang sudah mendunia,’’ ungkap Fung-fung. Bahkan lokal guide ini “berjuang mati-matian”, agar jadwal kunjungan ke pabrik-pabrik itu tidak batal. “Soalnya ini diwajibkan pemerintah,’’ ungkap Fung-fung.
Dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap cinta produk dalam negeri, dibenarkan Otong, penerjemah asli Sunda yang sengaja dikontrak pemerintah China khusus untuk mendampingi turis Melayu, baik Indonesia, Malaysia hingga Singapura. “Saya sudah beberapa tahun bekerja di pabrik obat di China sebagai penerjemah. Kami dengan beberapa orang Indonesia, dikontrak khusus mendampingi turis Melayu,’’ ujar Otong dengan logat Sundanya yang amat kental.

Dengan pendekatan “Indonesia”, Otong mendampingi kami mencoba pengobatan khas China. Mulai dari merendam kaki dengan cairan khusus, hingga deteksi kesehatan oleh para profesor China. Semuanya dilakukan dengan telaten, hingga menyebabkan Palembang Pos dan rombongan akhirnya dengan rela melepas beberapa ratus, atau bahkan beberapa ribu Yuan, hanya untuk membeli obat gosok hingga obat rendam kaki.
“Tidak rugi membeli obat disini. Karena produk di pabrik kami sudah terkenal hingga manca negara,’’ bujuk Otong. Dari kunjungan ke beberapa pabrik terkenal di China, pelajaran berharga yang dapat dipetik yakni betapa gigihnya bangsa China memperkenalkan produksi dalam negerinya ke manca negara. Saking gigihnya memasarkan produk China, pemerintah disini juga mewajibkan pabrik-pabrik mengontrak penerjemah khusus, atau paling tidak mendidik karyawannya untuk memahami bahasa asing.
Seperti yang saya lihat di pabrik teh yang ada di pusat kota Beijing. Di pabrik ini memang tidak ada penerjemah khusus untuk turis Indonesia, seperti di pabrik obat. Tapi beberapa karyawannya bisa disebut fasih dalam berbahasa Indonesia. Padahal, mereka baru beberapa bulan belajar Bahasa Indonesia. Kepada saya, salah seorang karyawan, Lian, mengaku belajar Bahasa Indonesia selama 4 bulan. “Sehingga wajar, bahasa saya masih patah-patah. Tapi saya terus mencoba ngobrol dengan turis, guna melancarkan Bahasa Indonesia saya,’’ ungkap gadis ini.
Selain hasil industri besar, dukungan pemerintah dan peran aktif masyarakat juga terlihat dengan menggeliatnya sentra-sentra pasar yang menjual berbagai macam produk, mulai dari kelas mall besar hingga pasar rakyat. Seperti di Nanjing Road Shanghai hingga Yashow/Yaxiu Market di Beijing, yang merupakan sentra produk-produk murah dan amat terkenal dikalangan turis manca negara.

”Disini umumnya barang yang dijual umumnya tidak kena pajak, sehingga harganya bisa jauh lebih murah dari yang dijual di mall. Sehingga wajar saja, jika Yaxiu Market sangat terkenal pada turis manca negara. Tapi untuk mendapat harga murah itu, kembali kepada kepiawaian turis menawar,’’ ujar Fung-fung. Apa yang dikatakan Fung-fung memang cukup beralasan, jika melihat harga tawar hingga harga jadi produk di pasar ini. Misalkan untuk jaket aspal yang awalnya dihargai 780 Yuan, setelah tawar-menawar bisa turun menjadi 150-200 Yuan saja. (**)
Hari pertama menapakkan kaki di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di Shanghai, saya dan rombongan sudah dibawa lokal guide, Johan, menuju pabrik pemintalan dan produksi kain sutra. Di pabrik ini, terlihat jelas kebanggaan bangsa China terhadap asset lokal yang kini sudah mendunia, yakni kain sutra.
Kepada rombongan, juru bicara pabrik, menjelaskan rute-rute perdagangan sutera zaman silam yang melegenda yakni Silk Road (jalur sutera). Selain itu, juga dijelaskan secara detail mengenai produksi kain sutera, mulai dari proses pemintalan kepompong ulat sutera hingga menjadi kain sutera yang bermutu tinggi.

Selain menyaksikan bagaimana produksi kain sutera secara langsung, kami juga diajarkan bagaimana cara memilih kain sutera yang baik dan bermutu tinggi. “Produksi kami selain bermutu tinggi juga higienis, karena tidak menyebabkan iritasi pada kulit pemakainya, ’’ ujar karyawan pabrik sutera tersebut.
Hal serupa juga saya alami saat menjejakkan kaki di Beijing. Selama 3 hari, praktis tour guide, Fung-fung, membawa kami ke sejumlah pabrik dengan produk unggulan yang sudah mendunia. Mulai dari pabrik obat-obatan, batu akik, teh, hingga jamu. “Semua pabrik tersebut milik negara. Memang 70 persen industri besar di China dimiliki negara. Ada juga yang dimiliki swasta, tapi tidak banyak. Kami diwajibkan untuk membawa turis asing ke pabrik-pabrik itu agar bisa memperkenalkan produk kami ke manca negara,’’ jelas Fung-fung yang mengaku pernah 3 tahun bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di Jakarta.
Kata “wajib” yang disebut Fung-fung, benar-benar dijalankan. Tidak satupun pabrik yang ada dalam jadwal tour di Beijing, yang luput dari kunjungan saya dan rombongan. “Tidak membeli obat atau batu akik tidak masalah. Yang penting, kami sudah membawa turis ke pabrik-pabrik itu dan memperkenalkan produksi China yang sudah mendunia,’’ ungkap Fung-fung. Bahkan lokal guide ini “berjuang mati-matian”, agar jadwal kunjungan ke pabrik-pabrik itu tidak batal. “Soalnya ini diwajibkan pemerintah,’’ ungkap Fung-fung.
Dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap cinta produk dalam negeri, dibenarkan Otong, penerjemah asli Sunda yang sengaja dikontrak pemerintah China khusus untuk mendampingi turis Melayu, baik Indonesia, Malaysia hingga Singapura. “Saya sudah beberapa tahun bekerja di pabrik obat di China sebagai penerjemah. Kami dengan beberapa orang Indonesia, dikontrak khusus mendampingi turis Melayu,’’ ujar Otong dengan logat Sundanya yang amat kental.

Dengan pendekatan “Indonesia”, Otong mendampingi kami mencoba pengobatan khas China. Mulai dari merendam kaki dengan cairan khusus, hingga deteksi kesehatan oleh para profesor China. Semuanya dilakukan dengan telaten, hingga menyebabkan Palembang Pos dan rombongan akhirnya dengan rela melepas beberapa ratus, atau bahkan beberapa ribu Yuan, hanya untuk membeli obat gosok hingga obat rendam kaki.
“Tidak rugi membeli obat disini. Karena produk di pabrik kami sudah terkenal hingga manca negara,’’ bujuk Otong. Dari kunjungan ke beberapa pabrik terkenal di China, pelajaran berharga yang dapat dipetik yakni betapa gigihnya bangsa China memperkenalkan produksi dalam negerinya ke manca negara. Saking gigihnya memasarkan produk China, pemerintah disini juga mewajibkan pabrik-pabrik mengontrak penerjemah khusus, atau paling tidak mendidik karyawannya untuk memahami bahasa asing.
Seperti yang saya lihat di pabrik teh yang ada di pusat kota Beijing. Di pabrik ini memang tidak ada penerjemah khusus untuk turis Indonesia, seperti di pabrik obat. Tapi beberapa karyawannya bisa disebut fasih dalam berbahasa Indonesia. Padahal, mereka baru beberapa bulan belajar Bahasa Indonesia. Kepada saya, salah seorang karyawan, Lian, mengaku belajar Bahasa Indonesia selama 4 bulan. “Sehingga wajar, bahasa saya masih patah-patah. Tapi saya terus mencoba ngobrol dengan turis, guna melancarkan Bahasa Indonesia saya,’’ ungkap gadis ini.
Selain hasil industri besar, dukungan pemerintah dan peran aktif masyarakat juga terlihat dengan menggeliatnya sentra-sentra pasar yang menjual berbagai macam produk, mulai dari kelas mall besar hingga pasar rakyat. Seperti di Nanjing Road Shanghai hingga Yashow/Yaxiu Market di Beijing, yang merupakan sentra produk-produk murah dan amat terkenal dikalangan turis manca negara.

”Disini umumnya barang yang dijual umumnya tidak kena pajak, sehingga harganya bisa jauh lebih murah dari yang dijual di mall. Sehingga wajar saja, jika Yaxiu Market sangat terkenal pada turis manca negara. Tapi untuk mendapat harga murah itu, kembali kepada kepiawaian turis menawar,’’ ujar Fung-fung. Apa yang dikatakan Fung-fung memang cukup beralasan, jika melihat harga tawar hingga harga jadi produk di pasar ini. Misalkan untuk jaket aspal yang awalnya dihargai 780 Yuan, setelah tawar-menawar bisa turun menjadi 150-200 Yuan saja. (**)
Megahnya Stadion Sarang Burung

Sebagai rujukan menimba ilmu jelang digelarnya SEA Games 2011 di Sumsel, saya bersama sejumlah rekan pers Palembang, pekan lalu secara khusus mendapat kesempatan langka menyambangi komplek Stadion Nasional Beijing, tempat opening dan closing Olympiade 2008 digelar.
Stadion megah yang dipagari deretan hotel mewah dan taman bunga dan pohon gundul akibat baru melalui musim dingin tersebut, terbilang unik. Bagaimana tidak, bentuknya menyerupai sarang burung walet. Panel-panel baja tampak tersusun rapi, membentuk sarang burung walet raksasa.
Sehingga adalah wajar, jika stadion itu disebut Bird Nest Building atau Niao Chiao dalam bahasa China yang berarti sarang burung. “Karena bentuknya mirip sarang burung walet, warga Beijing juga menyebutnya Stadion Sarang Burung,’’ ujar Fung-fung, tour guide lokal Beijing. Sebelum tiba di dalam komplek stadion, saya terlebih dahulu melalui sebuah lapangan (plaza) yang amat luas.
Bak plaza Benteng Kuto Besak, plaza Stadion Sarang Burung juga dipadati warga yang sekedar membunuh waktu atau sengaja ingin menikmati megah dan cantiknya stadion itu. Kondisi angin kencang yang dinginnya dengan suhu berkisar 1-7 derajat Celcius, menyebabkan warga harus memakai jaket tebal, syal, penutup kepala, hingga sarung tangan. Walau gerak jadi terbatas, tak mengurangi antusias warga foto-foto di depan stadion unik tersebut.

Di dekat Stadion Sarang Burung, juga berdiri sejumlah gedung megah, mulai dari Pusat Akuatik Nasional, Gedung Pertemuan, hingga Gedung Budaya Wukesong Beijing. Secara keseluruhan, lokasi stadion nasional tersebut dikenal dengan nama Taman Olympiade. Menurut informasi, pemerintah China harus mengeluarkan Rp 19 Triliun untuk membangun kawasan tersebut. “Untuk musim liburan saat ini (pergantian musim dingin ke semi, red), kawasan ini dikunjungi 20 ribu orang perhari. Kalau musim liburan pada awal Juli (musim panas, red), jumlah pengunjung lebih banyak lagi. Mulai dari turis lokal hingga asing,’’ papar Fung-fung.
Selain venuesnya mampu menjadi objek kunjungan turis, pasca gelaran Asian Games dan Olympiade, kata Fung-fung, kecintaan warga China pada olahraga semakin besar. Pemerintah memfasilitasinya gairah berolahraga itu, dengan membangun sejumlah sarana olahraga yang baik. Mulai dari lapangan bola, futsal, dan atletik di masing-masing kawasan, hingga sarana fitness gratis di setiap apartemen.
Sehingga menjadi pemandangan umum, jika tampak antrean warga di Beijing yang hendak berolahraga. Secara khusus saya memberikan nilai plus bagi fasilitas fitness gratis yang dibangun di masing-masing apartemen.

Memang pemerintah Beijing dan sejumlah kota besar di China, melarang warganya memiliki rumah dan tanah. Semuanya tinggal di apartemen. Dengan fasilitas fitness yang lengkap dan gratis, kapan saja warga Beijing bisa berolahraga. “Malah saya pernah karena tidak bisa tidur di malam hari, menghabiskan waktu untuk berolahraga fitness sendirian. Soal keamanan, jangan khawatir karena disini (Beijing, red) tak sama dengan Jakarta,’’ papar Fung-fung.
Dukungan pemerintah China bagi warganya untuk giat berolahraga berbuah manis, dengan kian superiornya atlet negara yang juga disebut Tiongkok itu dalam percaturan olahraga di dunia. “Kami ada 2 atlet basket yang main di NBA (liga bola basket AS, red), salah satunya Yao Ming. Kalau bulutangkis tak perlu ditanya lagi. Apakah ada atlet bola basket Indonesia yang main di NBA?” tanya Fung-fung. Pertanyaan Fung-fung langsung dijawab saya dengan gelengan kepala.
Nah, kisah sukses China menggelar Asian Games dan Olympiade yang berbuah manis dengan majunya olahraga di Negeri Tirai Bambu tersebut, sedikit banyak bisa ditiru Indonesia, atau Sumsel khususnya, dengan menggelar dan mensukseskan SEA Games 2011 pada 11 November nanti. Dengan suksesnya gelaran even SEA Games, kita berharap akan menularkan “virus sukses” pada dunia olahraga kita. Dengan berjayanya dunia olahraga Indonesia, rasa bangga menjadi warga Indonesia akan kembali tumbuh dan kuat. Semoga…(**)
Kota Tertib, yang Bebas Polusi dan Sampah

Soal sukses menjadi tuan rumah even akbar olahraga, Cina patut menjadi rujukan Sumsel yang akan menggelar SEA Games 2011. Selain sukses menggelar Asian Games 1990 dan 2010, China juga mampu menghelat Olympiade pada 2008 silam. Guna belajar kiat sukses China, Saya bersama sejumlah insan pers Palembang mulai 28 Februari hingga 7 Maret mendapat kesempatan langka mengunjungi Kota Shanghai dan Beijing, Republik Rakyat China (RRC).
Tak bisa dipungkiri, China sejak dahulu kala sudah menjadi rujukan berbagai bangsa untuk menimba ilmu. Bahkan ada pepatah lama, yang menyebutkan agar kita dapat terus menuntut ilmu, bahkan sampai ke Negeri China sekalipun. Sehingga adalah tepat jika Sumsel menjadikan China sebagai rujukan menimba ilmu, sebelum menggelar SEA Games pada 11 November 2011 kelak.
Pasalnya, untuk urusan gelaran olahraga multi even, China tak perlu diragukan. Negeri Tirai Bambu ini sukses menggelar Asian Games pada 1990 dan 2010 serta Olympiade pada 2008 silam. Kisah sukses China atau yang akrab disebut juga Tiongkok itu, tak lepas dari disiplin dan etos kerja masyarakat yang benar-benar patut diacungi jempol.
Contoh disiplin tinggi warga China, terlihat dari lalu lintas di Shanghai dan Beijing. Warga disini patuh dengan aturan berlalu lintas. Bagaimana bisa demikian? Karena aturan dan petugas lalu lintas sangat tegas. Bayangkan saja, di setiap lampu merah bisa dipastikan ada kamera CCTV. Jika tertangkap kamera melanggar peraturan lalu lintas, sanksi yang dijatuhkan lumayan berat.
“Pada akhir bulan si pelanggar mendapat tagihan yang jumlahnya bisa mencapai 500 yuan atas setara dengan Rp 675.000 (1 Yuan = Rp 1.350). Jika tidak membayar denda, kendaraan yang melanggar akan diambil oleh pemerintah. Warga disini juga tidak kenal dengan istilah suap atau sogok menyogok petugas, karena dia bisa dihukum berat. Selain itu, sudah puluhan pejabat China yang dihukum mati karena korupsi,’’ jelas Johan, guide lokal Shanghai yang fasih berbahasa Indonesia.

Ketertiban berlalu lintas, lanjut Johan, juga karena pemerintah setempat melarang hadirnya sepeda motor. Sebagai sarana transportasi pengganti sepeda motor, warga lebih memilih bus, taksi, subway (KA bawah tanah), sepeda angin atau sepeda elektrik bertenaga accu yang aman polusi. Dengan tidak adanya sepeda motor, praktis lalu lintas di Shanghai dan Beijing tertib dan bebas polusi. Pertanyaan timbul kemana larinya sepeda motor produksi China? “Umumnya sepeda motor made in China dikirim ke daerah-daerah luar kota, atau ke luar negeri,’’ ujar Johan. Juga soal kebersihan, warga China sejak dahulu dididik malu membuang sampah sembarangan. Sehingga wajar saja, walaupun termasuk berpenduduk padat, baik di Shanghai maupun Beijing tak pernah terlihat tumpukan sampah di pinggir jalan.
“Budaya di sini sudah tertanam rasa malu. Siapapun yang membuang sampah sembarangan akan malu dilihat orang lain. Termasuk pengemis, mereka malu untuk meminta kepada turis dari luar. Mereka akan minta kepada penduduk lokal. Biasanya mereka pun datang dari luar kota,” tutur Johan.
Fung-fung menambahkan, 5 tahun lalu sebagian warga China, khususnya Beijing, kehidupannya masih agak jorok. “Itu bisa dilihat dari kondisi WC umum yang ada di setiap kawasan, mulai terminal, pasar, hingga objek wisata. Saat itu sulit menemukan WC umum yang bersih. Namun kini, kondisinya lebih baik,’’ ujar Fung-fung.

Untuk membuktikan perkataan Fung-fung, saya memasuki salah satu WC umum yang ada di kawasan wisata Summer Palace (Istana Musim Panas, red), yang ada di Distrik Hidian, tepatnya dibagian barat laut pusat Kota Beijing. Walau sudah tidak jorok, tapi sisa-sisa “masa kegelapan” masih saya temukan. Air pembilas masih menjadi barang langka, karena warga disini masih menggunakan tisu untuk membersihkan bekas buang air.
Karena air pembilas tak ada, bau menyengat khas WC umum masih tercium. Guna menghilangkan bau tersebut, pengelola WC umum memberi beberapa buah kapur barus di masing-masing kloset. Nah, bagi turis yang masih kurang puas jika tak membilas bekas buang air dengan air, seperti turis asal Indonesia, membawa botol air mineral dan tisu basah menjadi solusi yang tepat.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Fung-fung, lelaki supel berkacamata itu tak membantahnya. “Ya, kondisinya memang demikian. Walau belum bisa dibandingkan dengan WC umum di Singapura, namun kebersihannya sudah lebih baik jika dibandingkan 5 tahun lalu,’’ jelas Fung-fung. (**)
Sabtu, 12 Maret 2011
Dari Forbidden City hingga Great Wall
Selama 28 Februari-4 Maret 2011 lalu, saya dan sejumlah wartawan Palembang mendapatkan kesempatan menyusuri sejumlah objek wisata terkenal di Kota Shanghai dan Beijung, Republik Rakyat China (RRC) atau yang dikenal juga dengan Tiongkok. Didampingi Kabid Humas KONI Sumsel, Riduan T dan Humas Pemprov Sumsel, Thontowi HE Permana, saya merasakan benar wisata yang sudah menjadi sebuah industri.
Dengan menumpang pesawat Garuda, saya dan rombongan tiba di tanah China, tepatnya bandara internasional Pudong, Shanghai. Suhu yang amat dingin, 1-7 derajat celcius seketika menerpa tubuh saya yang kebetulan hanya memakai jaket tipis. “Wajar dingin, karena disini baru saja berganti musim dari dingin ke semi,’’ ujar Johan, local guide Shanghai.

Keluar dari Pudong Airport, kondisi teratur dan disiplin langsung saya rasakan . “Disini warganya disiplin, baik berlalu lintas maupun menjaga kebersihan,’’ kata Johan. Usai makan siang, saya dan rombongan dibawa Johan ke Oriental Pearl TV Tower. Sebuah menara TV yang terletak di ujung Lujiazui di distrik Pudong, di tepi Sungai Huangpu.
Di menara dengan ketinggian 468 m, saya dapat menikmati keindahan Kota Shanghai yang dulu dikenal dengan kehidupan Gangsternya, dari atas ketinggian. Dari Oriental Pearl TV Tower, kami dibawa ke pinggiran Sungai Huangpu yang dijajari bangunan kuno. “Mirip foto di Eropa,” ujar salah seorang rekan.
Puas menikmati wisata di Shanghai, saya esoknya terbang ke Beijing. Dari bandara internasional Beijing, local guide, Fung-fung langsung membawa rombongan makan siang dan menapaki objek wisata terkenal di Beijing, yakni Forbidden City. Kami diminta bergegas, karena harus tiba di lokasi sebelum pukul 15.00 waktu setempat. Jika lewat tak boleh masuk lagi dalam beberapa hari ke depan, karena kebetulan di dekat lokasi akan digelar rapat parlemen.

Di Forbidden City, saya dibuat terperangah atas mahakarya bangsa Tiongkok tersebut. Terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing, istana yang juga dikenal dengan Zijìn Chéng (Kota Terlarang Ungu), merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Qing. Lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 m, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan.
Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.

Tiananmen juga merupakan ojek wisata terkenal. Soalnya di tempati pada 1989 silam, lebih dari 3000 orang tewas dalam sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik di China. Esoknya, kami dibawa Fung-fung menuju Yihe Yuan atau Istana Musim Panas. Istana yang terletak 15 km dari pusat kota Beijing itu, dibangun kali pertama pada zaman Dinasti Jin.
Pada awal pembuatannya, istana ini mempunyai nama Taman Qingyi. Dikembalikan ke fondasi awal yang merupakan karya arsitektur kebun klasik Tiongkok pada tahun 1886, setelah sebagian besar hancur karena perang di tahun 1860. Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Istana ini betul-betul cantik, karena kombinasi kekayaan alam, seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia, seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Wajar saja, jika istana ini menjadi salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Puncak kunjungan ke objek wisata di Negeri Tirai Bambu yakni ke Tembok Raksasa Cina. Tembok raksasa sepanjang 6.400 km (dari kawasan Shanhai Pass di Timur hingga Lop Nur di Barat) dan tingginya 8 m, dibangun untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu.
Konon untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.
Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Cina.
Di tembok inilah, saya kali pertama menyentuh salju yang masih nampak mengonggok di setiap sudut bangunan ini. Puas menikmati indahnya peninggalan sejarah Tiongkok, saya dan rombonganpun tenggelam dalam asyiknya berburu cinderamata. Sebagai kenang-kenangan, saya pun rela membayar 50 Yuan untuk berpose dengan pakaian khas bangsa China kuno. (**)
Dengan menumpang pesawat Garuda, saya dan rombongan tiba di tanah China, tepatnya bandara internasional Pudong, Shanghai. Suhu yang amat dingin, 1-7 derajat celcius seketika menerpa tubuh saya yang kebetulan hanya memakai jaket tipis. “Wajar dingin, karena disini baru saja berganti musim dari dingin ke semi,’’ ujar Johan, local guide Shanghai.

Keluar dari Pudong Airport, kondisi teratur dan disiplin langsung saya rasakan . “Disini warganya disiplin, baik berlalu lintas maupun menjaga kebersihan,’’ kata Johan. Usai makan siang, saya dan rombongan dibawa Johan ke Oriental Pearl TV Tower. Sebuah menara TV yang terletak di ujung Lujiazui di distrik Pudong, di tepi Sungai Huangpu.
Di menara dengan ketinggian 468 m, saya dapat menikmati keindahan Kota Shanghai yang dulu dikenal dengan kehidupan Gangsternya, dari atas ketinggian. Dari Oriental Pearl TV Tower, kami dibawa ke pinggiran Sungai Huangpu yang dijajari bangunan kuno. “Mirip foto di Eropa,” ujar salah seorang rekan.
Puas menikmati wisata di Shanghai, saya esoknya terbang ke Beijing. Dari bandara internasional Beijing, local guide, Fung-fung langsung membawa rombongan makan siang dan menapaki objek wisata terkenal di Beijing, yakni Forbidden City. Kami diminta bergegas, karena harus tiba di lokasi sebelum pukul 15.00 waktu setempat. Jika lewat tak boleh masuk lagi dalam beberapa hari ke depan, karena kebetulan di dekat lokasi akan digelar rapat parlemen.

Di Forbidden City, saya dibuat terperangah atas mahakarya bangsa Tiongkok tersebut. Terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing, istana yang juga dikenal dengan Zijìn Chéng (Kota Terlarang Ungu), merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Qing. Lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 m, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan.
Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.

Tiananmen juga merupakan ojek wisata terkenal. Soalnya di tempati pada 1989 silam, lebih dari 3000 orang tewas dalam sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik di China. Esoknya, kami dibawa Fung-fung menuju Yihe Yuan atau Istana Musim Panas. Istana yang terletak 15 km dari pusat kota Beijing itu, dibangun kali pertama pada zaman Dinasti Jin.
Pada awal pembuatannya, istana ini mempunyai nama Taman Qingyi. Dikembalikan ke fondasi awal yang merupakan karya arsitektur kebun klasik Tiongkok pada tahun 1886, setelah sebagian besar hancur karena perang di tahun 1860. Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Istana ini betul-betul cantik, karena kombinasi kekayaan alam, seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia, seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Wajar saja, jika istana ini menjadi salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Puncak kunjungan ke objek wisata di Negeri Tirai Bambu yakni ke Tembok Raksasa Cina. Tembok raksasa sepanjang 6.400 km (dari kawasan Shanhai Pass di Timur hingga Lop Nur di Barat) dan tingginya 8 m, dibangun untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu.
Konon untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.
Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Cina.
Di tembok inilah, saya kali pertama menyentuh salju yang masih nampak mengonggok di setiap sudut bangunan ini. Puas menikmati indahnya peninggalan sejarah Tiongkok, saya dan rombonganpun tenggelam dalam asyiknya berburu cinderamata. Sebagai kenang-kenangan, saya pun rela membayar 50 Yuan untuk berpose dengan pakaian khas bangsa China kuno. (**)
Sabtu, 02 Januari 2010
Dari Wat Pho hingga patung Budha tidur

Thailand memang dikenal sebagai negeri yang kaya dengan objek wisata menarik. Tak hanya objek wisata alam, negeri gajah putih ini juga bertabur objek wisata sejarah, salah satunya Candi Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha tidurnya.
Bersama kontingen wartawan Sumsel, Putri Sumsel dan KONI Sumsel, Desember lalu saya berkesempatan menjejaki sisi eksotis Candi Wat Pho dan patung Budha tidurnya. Letak komplek Candi Wat Pho tidak terlalu jauh dengan Grand Palace, istana Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Dari gerbang Grand Palace, kita hanya butuh 30 menit berjalan kaki di trotor gerbang candi megah tersebut.
Saat menapaki kaki ke dalam komplek candi yang dibangun pada abad 16 itu, saya sudah menemui ramainya orang yang ingin menyaksikan keindahan Wat Pho dan patung Budha tidur atau Reclaining Budha.

Sebelum memasuki kuil tempat patung Budha tidur, terlebih dahulu saya mengarahkan kaki ke sejumlah kuil yang berornamen khas Thailand yakni ukiran bunga-bungan yang antik. Selain itu, patung-patung khas negeri Siam itu juga banyak terlihat di sekeliling kuil yang ada di dalam komplek Wat Pho.
Saking menakjubkannya keindahan kuil-kuil tersebut, tangan menjadi gatal untuk terus mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Setelah puas mengambil setiap sudut Wat Pho yang kerap disebut Rajanya Candi di Thailand tersebut, saya mengarahkan kaki memasuki kuil tempat patung Budha tidur. Tapi terlebih dahulu, pengunjung wajib membuka alas kaki sebelum masuk.

Untuk dapat memasuki kuil ini, setiap pengunjung dikenai biaya 50 bath 1 orang (1 bath = Rp 2500). Tapi karena masuk secara berombongan yang dikoordinir travel agent, saya tak perlu lagi merogoh kocek sendiri. Beberapa langkah ke dalam kuil yang agak gelap ini, saya terpana dengan sebuah patung Budha raksasa yang sedang dalam posisi tidur.
Patung Budha dari emas ini memiliki panjang 46 meter dengan tinggi 15 meter. Konon emas murni yang dipakai untuk membuat patung ini kabarnya mencapai 5,5 ton. Wah!! saya segera mengeluarkan kamera dan berkali-kali menjepret ke arah patung Budha tidur. Agak melangkah ke dalam, saya menemui semacam kotak sumbangan. Kotak ini memang sengaja disediakan untuk penyumbang.
Menariknya, uang kita diganti semangkuk koin dengan jumlah bervariasi. Dengan koin-koin itulah, pengunjung yang percaya dapat melakukan ritual Sadokoq atau membuang sial. Prosesi ritual itu yakni koin-koin satu persatu diletakkan ke dalam 108 mangkuk yang ada. Jika koinnya habis, maka diyakini yang bersangkutan terbebas dari nasib sial atau keinginannya dapat terkabul. ”Memang banyak pengunjung ke sini untuk membuang sial, mendapat jodoh atau mengharapkan kenaikan pangkat,’’ ujar Imron, guide rombongan Sumsel asli Phatani, Thailand Selatan, yang mahir berbahasa Indonesia.

Selain patung Budha tidur, di komplek Wat Pho juga ada sedikitnya 1000 patung Budha berbagai macam pose. Patung itu disimpan dalam lemari-lemari kaca dan sekitar candi, yang dengan mudah dapat dinikmati pengunjung. Nah, jika sudah merasa letih mengelilingi Komplek Wat Pho, di belakang candi ini ada sebuah Sekolah Pijat Tradisional Thailand. Dengan bayaran 150-200 bath, siswa-siswa sekolah ini dapat memberikan pijatan ala biksu di sekujur tubuh kita selama 30 menit. Dijamin badan yang tadinya pegal-pegal, menjadi segar kembali. Namun sayangnya karena mepet waktu, saya tidak sempat menikmati pijatan khas para biksu Thailand. (**)
Langganan:
Postingan (Atom)