Senin, 30 Juli 2007

Madinah, kota seribu cahaya



Lepas Isya, (6/7), saya dan 9 rekan wartawan media cetak dan elektronik Palembang yang mengunjungi jazirah Arab pada 5-12 Juli lalu, tiba di Madinah dan langsung menuju Hotel Dar Es Salam, hotel lumayan megah yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Nabawi. Suasana Kota Madinah benar-benar membuat kami takjub, karena mirip Singapura. Hilang semua bayangan kota kumuh di padang pasir, terhapus pemandangan hotel megah yang mengelilingi Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi sangat cantik di malam hari, karena nampak bermandikan cahaya lampu. Belum lagi marmer putih yang menutupi seluruh halaman luasnya. Apalagi kubahnya yang berwarna hijau, semakin membuat kami berdecak kagum.
Di masjid ini kami memperbanyak ibadah dan berziarah ke makam Rasulullah serta sahabat di Raudha. Tak lupa kami menikmati air zam-zam gratis sepuasnya, dari termos-termos besar yang ada di dalam Masjid Nabawi.
Berada di Madinah serasa kurang jika tidak mengunjungi sejumlah situs Islam. Dipandu Ustadz Muhsin, kami mengunjungi berbagai situs Islam, dimulai dari Masjid Quba, masjid yang dibuat pertama kali Nabi Muhammad saat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Setelah sholat sunat 2 rekaat di Masjid Quba, kami menuju Jabal Uhud.
Konon gunung yang dipuncaknya ada istana Raja Arab itu adalah satu-satunya gunung yang bakal masuk surga. Pasalnya, menurut Ustadz Mushin, Jabal Uhud yang berwarna merah ini mempunyai arti penting bagi Nabi Muhammad. Karena di medan
perang Uhud inilah, gugur paman tercinta Nabi Muhammad yakni Hamzah bin Abdul Muthalib alias “Singa Allah”. Uniknya, Jabal Uhud yang berwarna merah Nampak tak menyatu dengan gunung lain yang ada di dekatnya.



Tak jauh dari Jabal Uhud berdiri Bukit Pemanah. Kenapa disebut Bukit Pemanah? Karena ditempat ini dalam perang Uhud, pasukan pemanah muslim tergiur harta yang ditinggalkan pasukan kafir Kuraisy hingga turun bukit. Akibatnya pasukan muslim terpecah, hingga kalah dalam perang Uhud. Tour dilanjutkan ke Masjid Qiblatain. Di masjid ini Nabi Muhammad mendapat perintah Allah memindahkan kiblat 180 derajat dari Baitul Maqdis di Yarusalem ke Masjidil Haram di Mekkah Al Mukaromah.
Kami meneruskan kunjungan ke medan perang Khandaq. Di tempat ini dulu ada 7 masjid yang disatukan parit (khandaq) menjadi basis pertahanan Nabi Muhammad dan sahabat dalam perang Khandag. Masjid tersebut diantaranya Masjid Al Fattah, Salman Al Farisi, Syaidina Umar, Syaidina Usman, Syaidina Ali, dan Masjid Fatimah.
Tapi kini hanya tinggal beberapa masjid yang ada, karena sebagian sudah diratakan untuk pelebaran jalan. Dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari 3 malam itu, 5 ribu kaum muslimin mampu mengalahkan 10 ribu kaum kafir Kuraisy. City tour Madinah ditutup dengan kunjungan ke perkebunan kurma.
Di Medinah kami berbelanja souvenir yang dijual di sekitar Hotel Dar Es Salam. Namun karena harganya agak mahal dan kurang beragam, kami hanya membeli sedikit dan baru akan berbelanja habis-habisan di Mekkah, yang katanya lebih beragam dan miring harganya.
Satu kebiasaan buruk pedagang Madinah, yakni tangan mereka yang agak “nakal”. Mungkin ada baiknya wisatawan wanita tak belanja sendirian, paling tidak dikawal teman jika tidak ada suami atau saudara. Namun pada umumnya, pedagang Madinah ramah-ramah kepada pembeli. (**)

Minggu, 29 Juli 2007

Menapaki jejak sejarah di tanah Mekkah



Minggu, 8 Juli, kami meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Dengan berpakaian ihram, kami menuju Bir Ali untuk mengambil miqat (niat umrah) dan shalat sunat 2 rekaat. Jelang dini hari, kami tiba di Mekkah dan disambut Ustadz Hadi, pembimbing umrah dari Biro Perjalanan Attarimi. Usai makam malam di Hotel Dar Bilal yang jaraknya hanya 250 meter dari Masjidil Haram, kami melakukan ibadah umrah di masjid yang buka 24 jam tersebut.
Setelah melaksanakan rukun umrah, yakni tawaf (keliling Ka’bah), sholat sunat tawaf 2 rekaat, sai’ (berlari kecil) antara Bukit Safa dan Marwah, serta diakhiri tahalul (mencukur rambut minimal 3 helai), sekitar pukul 03.00 dinihari kami pun pulang ke hotel untuk beristirahat.
Hari-hari selanjutnya diisi memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, dan melaksanakan umrah sunah dengan mengambil miqat di Tan’im dan Ja’ronah. Selain ibadah, acara juga diselingi berbelanja oleh-oleh di Pasar Seng. Disebut Pasar Seng karena pasar yang mirip Pasar 16 Ilir di Palembang itu dulu dipagari dengan seng. Pasar ini amat dekat dengan Masjidil Haram. Beragam barang yang harganya miring, seperti songkok, gamis, surban, tasbih hingga kurma Ajwa (nabi) dan kacang Arab, bisa didapat di pasar ini.
Bahkan ada toko yang menghargai semua jenis dagangannya SR 2 (SR 1 sama dengan Rp 2600). Soal bahasa jangan khawatir, karena hampir seluruh pedagang bisa berbahasa Indonesia, walau belepotan. Berbeda dengan dengan Madinah, pedagang di Mekkah agak kurang ramah kepada pembeli. Mereka ketus jika dagangannya ditawar, apalagi sampai tidak jadi membeli.
Suasana Kota Mekkah agak lebih semrawut dan jorok bila dibanding Madinah yang tertata rapi. Lalu lintas kacau balau, pedagang kaki lima yang didominasi wanita berkulit hitam seenaknya berdagang di jalan. Tak ubahnya di Palembang, aksi langkah seribu PKL Arab saatmelihat polisi pun kerap dijumpai di Mekkah. “Mungkin sifat Jahiliyah dulu masih tersisa pada diri mereka,’’ ujar ustadz Hadi. Seperti di Madinah, kami di Mekah juga melakukan city tour. Dipandu Awad, warga Indonesia keturunan Arab, kami menuju Jabal Sur, tempat Nabi Muhammad dan Abubakar bersembunyi dan diselamatkan burung dara serta laba-laba dari kejaran kafir Kuraisy. Di tempat ini banyak pedagang menjual cinderamata khas Mekkah, namun made in China.
Tour dilanjutkan ke Padang Arafah. Arafah tidak lagi padang pasir, karena sudah dilapisi conblock. Di Arafah kami melihat banyak mahtab (tenda penginapan haji) tahan api. Mahtap tahan api itu dibuat Kerajaan Saudi Arabia, pasca kebakaran besar pada 1997. Menurut Awad, rencana beberapa tahun ke depan Saudi Arabia akan mengganti mahtab tenda dengan hotel.
“Setiap tahun jumlah jemaah haji selalu bertambah. Tapi uniknya, padang Arafah selalu mampu menampung jemaah haji yang jumlahnya berlipat-lipat. Allah Maha Besar.!!,’’ ujar Awad. Masih di kawasan Arafah, tampak Jabal Rohmah, bukit cadas yang diyakini mustajab untuk berdoa meminta jodoh. Konon dahulu Jabal Rohmah adalah tempat bertemunya Adam dan Hawa, setelah dipisahkan Allah SWT dari surga.
Di puncak Jabal Rohmah ada semacam monumen, yang dindingnya penuh tulisan nama. Kami membaca banyak nama-nama Indonesia di monumen itu. Mungkin karena dinilai bisa merusak kerapian dan nilai Jabal Rohmah, maka Kerajaan Saudi Arabia secara rutin mengecat monumen itu hingga bersih. Namun, monumen itu akan kembali penuh dengan goresan nama.



Turun dari Jabal Rohmah, kami mencoba naik unta dan motor khusus padang pasir. Sewanya beragam, mulai dari SR 5 hingga SR 10. Puas menikmati suasana Jabal Rohmah dan Padang Arafah, kami menuju ke terowongan Mina.
Di terowongan inilah beberapa tahun lalu, ratusan jemaah haji asal Indonesia mati syahid terinjak-injak. Kala itu terowongan Mina masih satu jalur. Karena peristiwa itulah Kerajaan Saudi Arabia membuat terowongan baru, sehingga keluar masuk jemaah haji dapat melalui 2 jalur.
Diakhir city tour di Mekkah, kami sempat melintas di Bukit Hira, tempat Goa Hira berada. Goa dimana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Allah pertama kali itu berjarak 6 km dari Mekkah. Karena Goa Hira ada dibalik Bukit Hira, maka tidak bisa dilihat dari kejauhan. Menurut Awad, orang yang hendak ke Goa Hira, harus menyediakan waktu paling tidak 3 hari.
Esoknya, kami meninggalkan Mekkah menuju Jeddah untuk pulang ke Tanah Air. Perjalanan memakan waktu 1 jam lebih. Di kota pantai ini, kami mengunjungi pusat perbelanjaan yang menjadi idola orang Indonesia, karena harganya lumayan miring. Parfum merek terkenal di Indonesia yang harganya Rp 800 ribu, di Jeddah bisa didapat dengan Rp 240 ribu saja.



Puas menghabiskan Real yang tersisa, kami mampir ke Laut Merah yang terkenal dengan kisah Nabi Musa membelah laut saat memimpin Bani Israil hijrah menghindari kejaran Firaun.
Selain pantai yang berpasir bersih, Laut Merah juga terkenal dengan masjid terapungnya. Masjid itu dibangun persis di bibir pantai, dengan tiang-tiang pancang yang menghujam ke dasar pantai. Jika air laut pasang, maka masjid itu seperti terapung. Sayang karena laut lagi surut, masjid itu tak Nampak terapung. Kecantikan Jeddah dan Laut Merah justru terlihat di malam hari karena mandi cahaya lampu. Kami
sempat pula menikmati bangunan-bangunan megah di seputaran Kota Jeddah.
Mulai Istana Raja Fadh hingga komplek Kedutaan Besar Amerika Serikat yang dibangun di bawah tanah. Menurut Awad, AS membangun Kedubesnya beberapa tingkat ke bawah tanah dan membiarkan bagian atasnya sebagai tanah lapang karena faktor keamanan. Karena faktor itulah, jalan bagian depan Kedubes AS pun dibagi 2, dan dipasangi kawat berduri. Mungkin takut serangan teroris. Puas berkeliling Jeddah, kami menuju Bandara King Abdul Aziz.
Sekitar pukul 16.30 waktu Jeddah, kami bertolak ke Sana’a dengan Yemenia dan transit selama beberapa jam di kota itu. Setelah terbang via Dubai selama 2,5 jam, kami melanjutkan perjalanan nonstop ke Jakarta selama 8,5 jam. Tepat pukul 13.30
WIB, kami mendarat di Tanah Air. Di hati selain kenangan wisata rohani yang takmungkin dilupakan, juga keinginan untuk kembali ke tanah para nabi suatu saat nanti. (**)

Sabtu, 28 Juli 2007

Sana’a, kota diantara gunung-gunung cadas



JAZIRAH Arab sejak dulu dikenal sebagai tanahnya para nabi. Bagaimana tidak, banyak nabi Allah SWT yang berasal dari kawasan itu. Kisah-kisah dan tempat yang berkaitan dengan perjuangan para nabi pun banyak ditemui di Jazirah Arab. Nah, saya beserta 9 rekan wartawan media cetak dan elektronik Palembang pada 5 hingga 12 Juli 2007 lalu berkesempatan menapaki jejak kejayaan Islam, khususnya di sejumlah kota Jazirah Arab, yakni Sana’a (Yaman), Jeddah, Mekkah, dan Madinah (Saudi Arabia). Berikut catatan singkat saya saat menikmati Kota Sana’a, Yaman.
Wisata rohani ke tanah para nabi dimulai Kamis, 5 Juli, pukul 07.45 WIB, saat pesawat Garuda membawa saya dan rombongan meninggalkan Bandara SMB II menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Perjalanan kemudian diteruskan dengan pesawat Airbus Yaman Air (Yemenia). Rute penerbangan cukup panjang, yakni Jakarta, Kuala Lumpur (Malaysia), Dubai (Uni Emirat Arab) dan Sana’a.
Setelah menempuh penerbangan melelahkan selama 12 jam lebih, termasuk transit masing-masing 1 jam di Kuala Lumpur dan Dubai, Jumat (6/7) sekitar pukul 03.00 waktu Sana’a (waktu Sana’a lebih lambat 4 jam dari WIB) saya tiba di bandara internasional Sana’a.
Walau internasional, namun bandara Sana’a kalah keren jika dibandingkan Bandara SMB II, baik dari kebersihan maupun kemegahan bangunannya. Bahkan kalau boleh dibilang, bandara Sana’a agak sedikit jorok. Dari bandara Sana’a, kami diinapkan di Hotel Al Musyafir yang ada di pusat Kota Sana’a. Soalnya pesawat ke Jeddah baru terbang
esok siang.
Dalam perjalanan menuju hotel, saya menemui keunikan budaya Yaman. Bus Palembang Pos berpapasan dengan konvoi mobil dengan suara klakson memekakkan telinga. Menurut sopir bus, konvoi yang mirip aksi penggila sepakbola itu rombongan pengantin Sana’a.
Masih diliputi rasa kagum, saya dan rombongan tiba di Hotel Al Musyafir yang juga kantor perwakilan Yaman Air di Sana’a. Setelah beristirahat, sambil mengisi waktu menunggu pesawat ke Jeddah, kami sempat mengelilingi Kota Sana’a yang bersuhu lumayan dingin.
Wajar saja dingin, karena kota ini ada di daerah pegunungan. Bahkan banyak bangunan di Sana’a, yang dipahat di gunung-gunung cadas, termasuk Hotel Al Musyafir tempat kami menginap.
Di Sana’a, suasana “perang saudara” yang terjadi belasan tahun lalu masih terasa. Kawasan Kota Sana’a yang dikelilingi bukit cadas, mirip dengan suasana Jalur Gaza di Palestina. Walau
geliat pembangunan, nampak terasa disana-sini. Satu lagi peninggalan masa konflik, yakni pasukan keamanan Yaman masih nampak menenteng senjata AK-47. Konon saat masih terbelah menjadi Yaman Selatan dan Utara, AK-47 dan sejenisnya dijual bebas di pinggir jalan oleh pedagang kaki lima.
Di setiap sudut kota Sana’a, foto orang kuat Yaman, Presiden DR Ali Alfallah Saleh Nampak mejeng, termasuk di lobi Hotel Al Musyafir. Pamor Ali Alfallah Saleh bisa disejajarkan 3 orang kuat di Asia, yakni Soeharto dari Indonesia, Saddam Husein dari Irak dan Kolonel Muammar Khadafi dari Libya.



Satu lagi budaya unik lelaki Yaman, yang mirip wong Plembang. Setiap lelaki Yaman selalu membawa Jambia, pisau bengkok khas Yaman. Selain merupakan sebuah kebanggaan, Jambia juga konon melambangkan kedewasaan lelaki Yaman.
Saat berjalan di jalanan Kota Sana’a yang arus lalu lintasnya berlawanan dengan arah dengan lalu lintas di Indonesia tersebut, kami berpapasan sebuah mobil yang pengemudinya mengklakson keras sambil berteriak “Assalamualaikum, Indonesia,’’. Dengan wajah ramah, lelaki berjenggot tipis itu melambaikan tangan kepada kami. Usut punya usut, ternyata bagi warga Yaman, Indonesia tidak asing.
Orang Indonesia di negeri ini sangat dihormati. Soalnya sebagian besar orang Indonesia di Yaman, adalah mahasiswa yang kuliah diberbagai perguruan tinggi terkemuka. Selain itu konon orang Arab di Indonesia, sebagian besar berasal dari Yaman. Sehingga wajar saja, bila ada ikatan khusus antara Indonesia dan Yaman.
Ustadz Muhsin, warga Indonesia keturunan Yaman yang sudah 1 tahun menetap di Madinah, menjelaskan bahwa sebetulnya Kota Aden (dulu ibukota Yaman Selatan) lebih rapi dan maju ketimbang Sana’a (dulu ibukota Yaman Utara). Bangunan-bangunan modern banyak berdiri di Aden, sedang di Sana’a umumnya bangunan lama.
Saat Yaman Utara dan Selatan bersatu kembali tepat 17 tahun lalu, Aden, yang merupakan jajahan Inggris menjadi ibukota perekonomian bagi Yaman. Sedangkan Sana’a yang konon dekat dengan pengaruh komunis Rusia, menjadi ibukota pemerintahan.
Selain bangunan dan rumahnya yang sangat unik karena bertengger di atas gunung cadas, negeri yang peduduknya mayoritas muslim ini memiliki sejumlah situs sejarah Islam, mulai dari Istana Siti Balqies (Ratu Jin yang diperistri Nabi Sulaiman), hingga ka’bah palsu yang dibuat Raja Abrahah bin Al Asyram, Gubernur Abbesinia di Yaman.
Menurut kisah, Raja Abrahah berobsesi menarik perhatian orang Arab, termasuk penduduk Mekkah dari Ka’bah ke Yaman dengan membangun sebuah bangunan megah. Karena usahanya gagal, Abrahah bersumpah menghancurkan Ka’bah. Raja Abrahah dan pasukannya akhirnya menemui ajal, saat diserang burung-burung Ababil dengan hujanan batu api yang konon berasal dari neraka.



Nah, setelah menikmati sepintas suasana Kota Sana’a dan beberapa objek wisatanya, tak ada salahnya membeli souvenir khas setempat. Mencarinya tak berapa sulit, karena toko cinderamata bisa ditemui di Hotel Al Musyafir atau Bandara Int’l
Yaman. Mulai dari Pisau Jambia berbagai ukuran, miniature bangunan khas Sana’a plus masjid raya, hingga Istana Siti Balqies.
Di Sana’a selain mata uang Riyal Saudi, US Dollar pun diterima. Bahkan sejumlah toko dan counter souvenir di Bandara Int’l Yaman, umumnya mengunakan mata uang US Dollar. Tapi jangan terkecoh dengan Riyal Yaman. Walau namanya sama, namun nilainya jauh berbeda bisa dibanding dengan Riyal Saudi.
Puas berkeliling Sana’a, pukul 12.00 kami terbang dengan Yemenia menunju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Perjalanan memakan waktu 2, 5 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jeddah dan Sana’a. Di Bandara King Abdul Aziz kami dijemput Helmi, perwakilan biro travel Attarimi.
Dengan minibus yang dikendarai Nasrun, warga Saudi Arabia yang terus nyerocos dengan Bahasa Arab, kami menempuh perjalanan darat yang amat panjang ke Madinah Al Munawaroh.
Di tengah jalan, kami sempat mampir ke rumah makan orang Arab untuk merasakan nikmatnya santap siang ala kerajaan yang kini dipimpin keluarga Wahabi tersebut. Menunya, hemm… nasi kuning, ikan goreng dan semur daging unta. (**)

Jumat, 20 Mei 2005

Patpong, surga belanja dan mata


JIKA kebetulan anda berkesempatan berkunjung ke Bangkok, Thailand, mampirlah ke Patpong. Sebuah daerah yang suasananya mirip dengan Malioboro, Jogjakarta. Di antara turis asing, selain dikenal dengan surga belanja murah, karena disana banyak dijual souvernir khas negeri gajah putih itu, juga karena Patpong juga surga “mata”.
Wajar saja, di sepanjang Patpong berderet arena show girl, bar dan massage. Bahkan posisi tempat yang menyuguhkan atraksi mendebarkan jantung tersebut, sangat dekat dengan tempat penjualan souvernir. Hanya melirik sedikit, anda bisa melihat aksi gadis-gadis malam negeri Ratu Sirikit tersebut.
Patpong sebenarnya terletak agak keluar Bangkok, sekitar 45 menit naik taksi dari kawasan pinggiran kota besar itu. Namun karena harus melalui jalan tol, perjalanan menuju Patpong agak terasa lama. Ketika sampai di kawasan tersebut, kita langsung disambut dengan suasana malam yang terang benderang.
Beragam arena show girl dengan lampu hias, berbaur dengan pedagang souvernir khas Thailand. Baik calo arena show girl dan pedagang kaki lima di Patpong, sama-sama berlomba-lomba menawarkan dagangannya. Namun yang satu mahal, sedang yang lain harganya agak miring.


Untuk masuk ke arena show girl, kita harus merogoh kocek hingga 500 bath (1 bath = 4000 rupiah). Kalau ingin sekedar lihat-lihat, anda cukup berdiri di luar bar. Soalnya jika selangkah saja kaki anda masuk ke dalam, anda langsung didekati bodyguard bar karena kena charge.
Puas mengintip dunia malam Bangkok, jangan lupa membeli souvernir, misalnya gantungan kunci berbandul gajah kecil, kaos bergambar gajah atau hal-hal lain yang berbau hewan yang amat diagungkan di kerajaan tersebut. Harganya miring, hingga cocok untuk turis berkantong agak cekak seperti saya. **

Selasa, 11 Januari 2005

Dari Stadthuys hingga St. Paul's Church



JIKA ke Malaysia tak mampir ke Malaka, rasanya tidak ke Malaysia. Hal itu memang benar, karena Malaka adalah miniature dari negeri Malaysia. Berbagai etnis yang ada di Malaysia, semuanya ada di Melaka. Tidak itu saja, kota pelabuhan ini dikenal kaya dengan seni dan objek wisata sejarah.
Nah, kali ini akan mengajak pembaca menelusuri kota tua Melaka, yang akrab dengan sejarah wong Plembang. Malaka atau kerap juga disebut Melaka, ditemukan oleh pangeran dari Palembang, pada abad 14. Pangeran itu membangun Malaka dari kota nelayan kecil, menjadi sebuah pelabuhan pusat jalur perdagangan kapal dari India dan Cina.
Malaka sebetulnya terbilang dekat dari Singapura. Dengan bis dari Singapura, kita hanya butuh 4 jam untuk sampai ke Malaka. Di kota ini, kita akan temukan banyaknya objek sejarah yang saling berdekatan posisinya. Kita mulai dari komplek bangunan dari bata merah, yang amat cantik dipandang mata. Bangunan bernama The Stadthuys (1650) tersebut, dulunya kediaman Gubernur Jenderal Belanda. Kini bangunan apik itu, difungsikan menjadi Museum Sejarah dan Etnography.
Di museum ini, kita akan menemukan banyak pakaian tradisional Melaka dan peragaan barang peninggalan sejarah. Tak jauh dari Stadhuys, kita akan melihat sebuah gereja yang juga berwarna merah, yakni Christ Church. Gereja yang dibangun pada 1753, memiliki arsitektur khas gaya Belanda.
Dari Christ Church dan Stadthuys, kita akan menaiki tangga yang jumlahnya amat banyak. Tangga itu menuju sisa St. Paul's Church yang berada di puncak St. Paul's Hill atau bukit St. Paul’s. Di dalam sisa gereja tempat tinggal pendeta Katolik Portugis tersebut, kita akan menemukan banyak batu nisan kuno. Nisan-nisan beraksara latin dan Portugis tersebut, dikumpulkan dari sejumlah makam pejabat masa kolonial hingga keluarganya yang ada di sekitar bangunan tua itu.



Konon pada 1553, St. Francis Xavier (Fransiscus Xaverius) pernah disemayamkan di St. Paul’s Church sebelum dibawa ke Goa, India. Dari atas bukit St. Paul’s, kita bisa melihat pelabuhan Malaka. Sejenak di benak kita terbayang puluhan kapal zaman kolonial, yang memenuhi Bandar ramai tersebut.
Dari St Paul’s Church yang dihiasi patung St Paul’s menghadap pelabuhan, kita meneruskan perjalanan menuruni anak tangga menuju ke A’Fomosa. A’Famosa adalah sisa-sisa benteng yang dibangun Portugis setelah berhasil menguasai Malaka. Benteng ini dibangun untuk menghalangi invasi Belanda. Saat ini kejayaan A’Famosa tinggal berwujud pintu masuk benteng saja.
Dari A’Famosa, kita terus berjalan menuju Museum Baba dan Nyonya. Di museum ini, kita bisa melihat jejak perpaduan budaya dan kultur Cina pada bangsa Melayu. Baba maksudnya pria Cina, sedang umumnya Nyonya adalah orang Melayu. Kita tidak hanya disuguhi foto tua yang menggambarkan suasana kehidupan zaman Baba dan Nyonya di Malaka dahulu kala, namun juga beragam peninggalan kala itu.
Keluar dari Museum Baba dan Nyonya, kita berjalan agak memutar menuju Museum Maritim Malaka. Di museum berbentuk kapal Flora De La Mar, kita akan menemui beragam benda peninggalan masa kejayaan maritim di Malaka. Mulai dari berbagai foto kapal tua, meriam, pakaian pelaut, hingga visual kamar tahanan kapal yang kondisinya amat menyeramkan.
Tak puas membedah lambung “Museum Kapal” berwarna hitam tersebut, kita bisa naik ke atas tangga menuju geladak kapal. Disini, kita bisa berfoto dengan latar belakang jembatan megah yang ada didekat pelabuhan. Tepat disisi Museum Bahari, kita bisa melihat sebuah helikopter tua milik AU-nya Malaka. Petugas museum yang berpakaian khas Melayu, pun siap jika diminta foto bersama.



Selain kawasan wisata tersebut, Malaka masih banyak lagi menyimpan objek kunjungan turis yang amat menarik. Misalnya Mouselium Hang Jebat dan Hang Kasturi, Jalan Jonker’s, Memorial Hall yang menjadi saksi bisu saat pernyataan kemerdekaan dari Inggris pada 1912, Portuguese Square, Kuil Sam Po Kong, Kuil Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi, Gereja St. Francis Xavier's yang dibangun pada 1849 oleh orang Perancis, serta Benteng St. John's Fort yang dibangun orang Belanda pada pertengahan abad 18.
Kalau kita kunjungi seluruh objek wisata tersebut, dipastikan sehari tak akan selesai. Apalagi Melaka yang ada di dekat laut, selalu dibanjiri sinar matahari yang amat terik. Untuk itu sebagai referensi, kami usulkan kepada anda untuk menyewa becak sepeda yang biasanya banyak mangkal di seputaran Stadthuys. Dengan harga hanya beberapa Ringgit Malaysia, anda sudah bisa mendatangi banyak objek wisata di kota Malaka. **

Rabu, 14 Januari 2004

Wisata sungai di Singapura




BILA berbicara soal Singapura, maka pastilah terbayang di benak kita sebuah negara kota yang sarat dengan kemajuan teknologi dan gedung pencakar langit. Selain itu, Singapura juga dikenal sebagai kota pusatnya belanja dan hiburan. Beragam mal dan pusat plesiran ditata sedemikian mungkin oleh pemerintah Singapura, agar menarik kunjungan wisatawan. Salah satu objek kunjungan wisata yang kerap didatangi oleh wisatawan asing adalah Sungai Singapura. Sungai besar yang membelah Singapura, berujung langsung ke laut. Dengan berbagai fasilitas pendukung, negara berlambang Merlion tersebut mampu menjadikan Sungai Singapura sebagai objek wisata air andalan di negara itu.



Beragam objek wisata ada di seputar Sungai Singapura, baik yang gratisan maupun yang membuat kita merogoh kocek. Salah satunya yang akan kita jelajahi adalah River Cruise, wisata menyusuri sungai dengan menaiki perahu sewaan. Sewa perahu tak terlalu mahal, untuk trip paling jauh sekitar SGD 12. (1 SGD = Rp 6000)
Sejak awal kita naik ke atas perahu khas Singapura, kita langsung disapa suara pemandu wisata yang diputar pengemudi perahu dengan tape. Kepada kita, guide elektronik itu terus menjelaskan objek-objek wisata yang ada di pinggiran SungaiSingapura.
Saat perahu bergerak, mata kita langsung disuguhi pemandangan pinggiran sungai yang amat tertata rapi, mulai deretan sejumlah jembatan yang dibangun sejak awal abad 19, jejeran gedung tinggi, hingga kawasan taman hijau yang memang sengaja dibiarkan sebagai paru-paru kota. Selain itu kita juga akan melihat kawasan kota lama Singapura, Cark Quay, yang kalau diperhatikan amat mirip dengan kawasan 16Ilir. Namun bedanya, di Clark Quay bangunan tua yang berjejer di pinggir sungaisengaja dipadu dengan jajaran kursi café-café terbuka.
Selain itu pedestrian di Clark Quay sengaja dibangun luas, membuat para wisatawan dapat
leluasa menikmati suasana sungai dari pinggirannya. Beberapa saat mengarungi sungai, kita akan melihat Rafless Standing Side.
Tempat dimana Thomas Stanford Rafless, pendiri Singapura mendarat pertama kali. Tepat di kawasan itu, tegak berdiri patung Rafless untuk mengenang peristiwa bersejarah itu. Tak jauh dari patung Rafless, kita akan melihat bangunan megah berarsitektur Eropa yang kini. Gedung pemerintahan zaman kolonial Inggris itu, kini disulap menjadi Asian Civilization Museum.



Catatan khusus patut diberikan ke museum ini. Tak hanya menceritakan soal sejarah Singapura dari zaman dulu hingga kini, museum ini memiliki koleksi lengkap peradaban bangsa di Asia. Bahkan kisah Palembang plus ragam karya seninya, menjadi salah satu koleksi di museum ini. Perjalananwisata sungai kita akan melintasi The Fullerton Hotel. Hotel yang amat megah, dengan gaya arsitektur Eropa. Hotel berbintang lima tersebut nampak gagah berdiri, dengan latar belakang gedung pencakar langit Maybank dan HSBC.
Sebagai informasi, ketiga bangunan itu kerap menjadi gambar khas negara Singapura. Sebagai tujuan akhir wisata sungai kita, yakni kawasan Merlion Park. Saking pentingnya landmark tersebut, maka kalau ke Singapura tak ke Merlion Park bukan seperti ke Singapura. Kenapa demikian?Soalnya simbol Singapura yakni Merlion, perpaduan ikan duyung (Mermaid) dan Singa (Lion) hadir disini dalam bentuk patung. Menariknya, patung itu Nampak menyembutkan air ke laut. Pemerintah Singapura sengaja membuat dermaga menjorok ke laut, dan berhadapan langsung dengan patung Merlion
Sehingga wisatawan yang ingin berpose dengan latar belakang patung Merlion, tidak perlu kesulitan. Selain menggunakan perahu, wisata menyusuri sungai dapat juga dilakukan dengan becak sepeda yang banyak mangkal di dekat Asian Civilization Museum. **

Kamis, 08 Januari 2004

Prakata


Hai, ini kali pertama aku nulis di blog. Kerjaku jurnalis sehingga menulis adalah kegiatanku sehari-hari. Selain berita, aku paling suka menulis catatan perjalanan ke tempat-tempat wisata. Nah, berikut sekelumit jejak langkah kaki ku ke sejumlah tempat, baik di dalam maupun luar negeri...bye