Minggu, 13 Maret 2011

Megahnya Stadion Sarang Burung


Sebagai rujukan menimba ilmu jelang digelarnya SEA Games 2011 di Sumsel, saya bersama sejumlah rekan pers Palembang, pekan lalu secara khusus mendapat kesempatan langka menyambangi komplek Stadion Nasional Beijing, tempat opening dan closing Olympiade 2008 digelar.
Stadion megah yang dipagari deretan hotel mewah dan taman bunga dan pohon gundul akibat baru melalui musim dingin tersebut, terbilang unik. Bagaimana tidak, bentuknya menyerupai sarang burung walet. Panel-panel baja tampak tersusun rapi, membentuk sarang burung walet raksasa.
Sehingga adalah wajar, jika stadion itu disebut Bird Nest Building atau Niao Chiao dalam bahasa China yang berarti sarang burung. “Karena bentuknya mirip sarang burung walet, warga Beijing juga menyebutnya Stadion Sarang Burung,’’ ujar Fung-fung, tour guide lokal Beijing. Sebelum tiba di dalam komplek stadion, saya terlebih dahulu melalui sebuah lapangan (plaza) yang amat luas.
Bak plaza Benteng Kuto Besak, plaza Stadion Sarang Burung juga dipadati warga yang sekedar membunuh waktu atau sengaja ingin menikmati megah dan cantiknya stadion itu. Kondisi angin kencang yang dinginnya dengan suhu berkisar 1-7 derajat Celcius, menyebabkan warga harus memakai jaket tebal, syal, penutup kepala, hingga sarung tangan. Walau gerak jadi terbatas, tak mengurangi antusias warga foto-foto di depan stadion unik tersebut.


Di dekat Stadion Sarang Burung, juga berdiri sejumlah gedung megah, mulai dari Pusat Akuatik Nasional, Gedung Pertemuan, hingga Gedung Budaya Wukesong Beijing. Secara keseluruhan, lokasi stadion nasional tersebut dikenal dengan nama Taman Olympiade. Menurut informasi, pemerintah China harus mengeluarkan Rp 19 Triliun untuk membangun kawasan tersebut. “Untuk musim liburan saat ini (pergantian musim dingin ke semi, red), kawasan ini dikunjungi 20 ribu orang perhari. Kalau musim liburan pada awal Juli (musim panas, red), jumlah pengunjung lebih banyak lagi. Mulai dari turis lokal hingga asing,’’ papar Fung-fung.
Selain venuesnya mampu menjadi objek kunjungan turis, pasca gelaran Asian Games dan Olympiade, kata Fung-fung, kecintaan warga China pada olahraga semakin besar. Pemerintah memfasilitasinya gairah berolahraga itu, dengan membangun sejumlah sarana olahraga yang baik. Mulai dari lapangan bola, futsal, dan atletik di masing-masing kawasan, hingga sarana fitness gratis di setiap apartemen.
Sehingga menjadi pemandangan umum, jika tampak antrean warga di Beijing yang hendak berolahraga. Secara khusus saya memberikan nilai plus bagi fasilitas fitness gratis yang dibangun di masing-masing apartemen.



Memang pemerintah Beijing dan sejumlah kota besar di China, melarang warganya memiliki rumah dan tanah. Semuanya tinggal di apartemen. Dengan fasilitas fitness yang lengkap dan gratis, kapan saja warga Beijing bisa berolahraga. “Malah saya pernah karena tidak bisa tidur di malam hari, menghabiskan waktu untuk berolahraga fitness sendirian. Soal keamanan, jangan khawatir karena disini (Beijing, red) tak sama dengan Jakarta,’’ papar Fung-fung.
Dukungan pemerintah China bagi warganya untuk giat berolahraga berbuah manis, dengan kian superiornya atlet negara yang juga disebut Tiongkok itu dalam percaturan olahraga di dunia. “Kami ada 2 atlet basket yang main di NBA (liga bola basket AS, red), salah satunya Yao Ming. Kalau bulutangkis tak perlu ditanya lagi. Apakah ada atlet bola basket Indonesia yang main di NBA?” tanya Fung-fung. Pertanyaan Fung-fung langsung dijawab saya dengan gelengan kepala.
Nah, kisah sukses China menggelar Asian Games dan Olympiade yang berbuah manis dengan majunya olahraga di Negeri Tirai Bambu tersebut, sedikit banyak bisa ditiru Indonesia, atau Sumsel khususnya, dengan menggelar dan mensukseskan SEA Games 2011 pada 11 November nanti. Dengan suksesnya gelaran even SEA Games, kita berharap akan menularkan “virus sukses” pada dunia olahraga kita. Dengan berjayanya dunia olahraga Indonesia, rasa bangga menjadi warga Indonesia akan kembali tumbuh dan kuat. Semoga…(**)

Kota Tertib, yang Bebas Polusi dan Sampah


Soal sukses menjadi tuan rumah even akbar olahraga, Cina patut menjadi rujukan Sumsel yang akan menggelar SEA Games 2011. Selain sukses menggelar Asian Games 1990 dan 2010, China juga mampu menghelat Olympiade pada 2008 silam. Guna belajar kiat sukses China, Saya bersama sejumlah insan pers Palembang mulai 28 Februari hingga 7 Maret mendapat kesempatan langka mengunjungi Kota Shanghai dan Beijing, Republik Rakyat China (RRC).
Tak bisa dipungkiri, China sejak dahulu kala sudah menjadi rujukan berbagai bangsa untuk menimba ilmu. Bahkan ada pepatah lama, yang menyebutkan agar kita dapat terus menuntut ilmu, bahkan sampai ke Negeri China sekalipun. Sehingga adalah tepat jika Sumsel menjadikan China sebagai rujukan menimba ilmu, sebelum menggelar SEA Games pada 11 November 2011 kelak.
Pasalnya, untuk urusan gelaran olahraga multi even, China tak perlu diragukan. Negeri Tirai Bambu ini sukses menggelar Asian Games pada 1990 dan 2010 serta Olympiade pada 2008 silam. Kisah sukses China atau yang akrab disebut juga Tiongkok itu, tak lepas dari disiplin dan etos kerja masyarakat yang benar-benar patut diacungi jempol.
Contoh disiplin tinggi warga China, terlihat dari lalu lintas di Shanghai dan Beijing. Warga disini patuh dengan aturan berlalu lintas. Bagaimana bisa demikian? Karena aturan dan petugas lalu lintas sangat tegas. Bayangkan saja, di setiap lampu merah bisa dipastikan ada kamera CCTV. Jika tertangkap kamera melanggar peraturan lalu lintas, sanksi yang dijatuhkan lumayan berat.
“Pada akhir bulan si pelanggar mendapat tagihan yang jumlahnya bisa mencapai 500 yuan atas setara dengan Rp 675.000 (1 Yuan = Rp 1.350). Jika tidak membayar denda, kendaraan yang melanggar akan diambil oleh pemerintah. Warga disini juga tidak kenal dengan istilah suap atau sogok menyogok petugas, karena dia bisa dihukum berat. Selain itu, sudah puluhan pejabat China yang dihukum mati karena korupsi,’’ jelas Johan, guide lokal Shanghai yang fasih berbahasa Indonesia.


Ketertiban berlalu lintas, lanjut Johan, juga karena pemerintah setempat melarang hadirnya sepeda motor. Sebagai sarana transportasi pengganti sepeda motor, warga lebih memilih bus, taksi, subway (KA bawah tanah), sepeda angin atau sepeda elektrik bertenaga accu yang aman polusi. Dengan tidak adanya sepeda motor, praktis lalu lintas di Shanghai dan Beijing tertib dan bebas polusi. Pertanyaan timbul kemana larinya sepeda motor produksi China? “Umumnya sepeda motor made in China dikirim ke daerah-daerah luar kota, atau ke luar negeri,’’ ujar Johan. Juga soal kebersihan, warga China sejak dahulu dididik malu membuang sampah sembarangan. Sehingga wajar saja, walaupun termasuk berpenduduk padat, baik di Shanghai maupun Beijing tak pernah terlihat tumpukan sampah di pinggir jalan.
“Budaya di sini sudah tertanam rasa malu. Siapapun yang membuang sampah sembarangan akan malu dilihat orang lain. Termasuk pengemis, mereka malu untuk meminta kepada turis dari luar. Mereka akan minta kepada penduduk lokal. Biasanya mereka pun datang dari luar kota,” tutur Johan.
Fung-fung menambahkan, 5 tahun lalu sebagian warga China, khususnya Beijing, kehidupannya masih agak jorok. “Itu bisa dilihat dari kondisi WC umum yang ada di setiap kawasan, mulai terminal, pasar, hingga objek wisata. Saat itu sulit menemukan WC umum yang bersih. Namun kini, kondisinya lebih baik,’’ ujar Fung-fung.


Untuk membuktikan perkataan Fung-fung, saya memasuki salah satu WC umum yang ada di kawasan wisata Summer Palace (Istana Musim Panas, red), yang ada di Distrik Hidian, tepatnya dibagian barat laut pusat Kota Beijing. Walau sudah tidak jorok, tapi sisa-sisa “masa kegelapan” masih saya temukan. Air pembilas masih menjadi barang langka, karena warga disini masih menggunakan tisu untuk membersihkan bekas buang air.
Karena air pembilas tak ada, bau menyengat khas WC umum masih tercium. Guna menghilangkan bau tersebut, pengelola WC umum memberi beberapa buah kapur barus di masing-masing kloset. Nah, bagi turis yang masih kurang puas jika tak membilas bekas buang air dengan air, seperti turis asal Indonesia, membawa botol air mineral dan tisu basah menjadi solusi yang tepat.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Fung-fung, lelaki supel berkacamata itu tak membantahnya. “Ya, kondisinya memang demikian. Walau belum bisa dibandingkan dengan WC umum di Singapura, namun kebersihannya sudah lebih baik jika dibandingkan 5 tahun lalu,’’ jelas Fung-fung. (**)

Sabtu, 12 Maret 2011

Dari Forbidden City hingga Great Wall

Selama 28 Februari-4 Maret 2011 lalu, saya dan sejumlah wartawan Palembang mendapatkan kesempatan menyusuri sejumlah objek wisata terkenal di Kota Shanghai dan Beijung, Republik Rakyat China (RRC) atau yang dikenal juga dengan Tiongkok. Didampingi Kabid Humas KONI Sumsel, Riduan T dan Humas Pemprov Sumsel, Thontowi HE Permana, saya merasakan benar wisata yang sudah menjadi sebuah industri.
Dengan menumpang pesawat Garuda, saya dan rombongan tiba di tanah China, tepatnya bandara internasional Pudong, Shanghai. Suhu yang amat dingin, 1-7 derajat celcius seketika menerpa tubuh saya yang kebetulan hanya memakai jaket tipis. “Wajar dingin, karena disini baru saja berganti musim dari dingin ke semi,’’ ujar Johan, local guide Shanghai.


Keluar dari Pudong Airport, kondisi teratur dan disiplin langsung saya rasakan . “Disini warganya disiplin, baik berlalu lintas maupun menjaga kebersihan,’’ kata Johan. Usai makan siang, saya dan rombongan dibawa Johan ke Oriental Pearl TV Tower. Sebuah menara TV yang terletak di ujung Lujiazui di distrik Pudong, di tepi Sungai Huangpu.
Di menara dengan ketinggian 468 m, saya dapat menikmati keindahan Kota Shanghai yang dulu dikenal dengan kehidupan Gangsternya, dari atas ketinggian. Dari Oriental Pearl TV Tower, kami dibawa ke pinggiran Sungai Huangpu yang dijajari bangunan kuno. “Mirip foto di Eropa,” ujar salah seorang rekan.
Puas menikmati wisata di Shanghai, saya esoknya terbang ke Beijing. Dari bandara internasional Beijing, local guide, Fung-fung langsung membawa rombongan makan siang dan menapaki objek wisata terkenal di Beijing, yakni Forbidden City. Kami diminta bergegas, karena harus tiba di lokasi sebelum pukul 15.00 waktu setempat. Jika lewat tak boleh masuk lagi dalam beberapa hari ke depan, karena kebetulan di dekat lokasi akan digelar rapat parlemen.


Di Forbidden City, saya dibuat terperangah atas mahakarya bangsa Tiongkok tersebut. Terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing, istana yang juga dikenal dengan Zijìn Chéng (Kota Terlarang Ungu), merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Qing. Lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 m, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan.
Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.



Tiananmen juga merupakan ojek wisata terkenal. Soalnya di tempati pada 1989 silam, lebih dari 3000 orang tewas dalam sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik di China. Esoknya, kami dibawa Fung-fung menuju Yihe Yuan atau Istana Musim Panas. Istana yang terletak 15 km dari pusat kota Beijing itu, dibangun kali pertama pada zaman Dinasti Jin.
Pada awal pembuatannya, istana ini mempunyai nama Taman Qingyi. Dikembalikan ke fondasi awal yang merupakan karya arsitektur kebun klasik Tiongkok pada tahun 1886, setelah sebagian besar hancur karena perang di tahun 1860. Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Istana ini betul-betul cantik, karena kombinasi kekayaan alam, seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia, seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Wajar saja, jika istana ini menjadi salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.



Puncak kunjungan ke objek wisata di Negeri Tirai Bambu yakni ke Tembok Raksasa Cina. Tembok raksasa sepanjang 6.400 km (dari kawasan Shanhai Pass di Timur hingga Lop Nur di Barat) dan tingginya 8 m, dibangun untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu.
Konon untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.
Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Cina.
Di tembok inilah, saya kali pertama menyentuh salju yang masih nampak mengonggok di setiap sudut bangunan ini. Puas menikmati indahnya peninggalan sejarah Tiongkok, saya dan rombonganpun tenggelam dalam asyiknya berburu cinderamata. Sebagai kenang-kenangan, saya pun rela membayar 50 Yuan untuk berpose dengan pakaian khas bangsa China kuno. (**)

Sabtu, 02 Januari 2010

Dari Wat Pho hingga patung Budha tidur



Thailand memang dikenal sebagai negeri yang kaya dengan objek wisata menarik. Tak hanya objek wisata alam, negeri gajah putih ini juga bertabur objek wisata sejarah, salah satunya Candi Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha tidurnya.
Bersama kontingen wartawan Sumsel, Putri Sumsel dan KONI Sumsel, Desember lalu saya berkesempatan menjejaki sisi eksotis Candi Wat Pho dan patung Budha tidurnya. Letak komplek Candi Wat Pho tidak terlalu jauh dengan Grand Palace, istana Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Dari gerbang Grand Palace, kita hanya butuh 30 menit berjalan kaki di trotor gerbang candi megah tersebut.
Saat menapaki kaki ke dalam komplek candi yang dibangun pada abad 16 itu, saya sudah menemui ramainya orang yang ingin menyaksikan keindahan Wat Pho dan patung Budha tidur atau Reclaining Budha.



Sebelum memasuki kuil tempat patung Budha tidur, terlebih dahulu saya mengarahkan kaki ke sejumlah kuil yang berornamen khas Thailand yakni ukiran bunga-bungan yang antik. Selain itu, patung-patung khas negeri Siam itu juga banyak terlihat di sekeliling kuil yang ada di dalam komplek Wat Pho.
Saking menakjubkannya keindahan kuil-kuil tersebut, tangan menjadi gatal untuk terus mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Setelah puas mengambil setiap sudut Wat Pho yang kerap disebut Rajanya Candi di Thailand tersebut, saya mengarahkan kaki memasuki kuil tempat patung Budha tidur. Tapi terlebih dahulu, pengunjung wajib membuka alas kaki sebelum masuk.



Untuk dapat memasuki kuil ini, setiap pengunjung dikenai biaya 50 bath 1 orang (1 bath = Rp 2500). Tapi karena masuk secara berombongan yang dikoordinir travel agent, saya tak perlu lagi merogoh kocek sendiri. Beberapa langkah ke dalam kuil yang agak gelap ini, saya terpana dengan sebuah patung Budha raksasa yang sedang dalam posisi tidur.
Patung Budha dari emas ini memiliki panjang 46 meter dengan tinggi 15 meter. Konon emas murni yang dipakai untuk membuat patung ini kabarnya mencapai 5,5 ton. Wah!! saya segera mengeluarkan kamera dan berkali-kali menjepret ke arah patung Budha tidur. Agak melangkah ke dalam, saya menemui semacam kotak sumbangan. Kotak ini memang sengaja disediakan untuk penyumbang.
Menariknya, uang kita diganti semangkuk koin dengan jumlah bervariasi. Dengan koin-koin itulah, pengunjung yang percaya dapat melakukan ritual Sadokoq atau membuang sial. Prosesi ritual itu yakni koin-koin satu persatu diletakkan ke dalam 108 mangkuk yang ada. Jika koinnya habis, maka diyakini yang bersangkutan terbebas dari nasib sial atau keinginannya dapat terkabul. ”Memang banyak pengunjung ke sini untuk membuang sial, mendapat jodoh atau mengharapkan kenaikan pangkat,’’ ujar Imron, guide rombongan Sumsel asli Phatani, Thailand Selatan, yang mahir berbahasa Indonesia.



Selain patung Budha tidur, di komplek Wat Pho juga ada sedikitnya 1000 patung Budha berbagai macam pose. Patung itu disimpan dalam lemari-lemari kaca dan sekitar candi, yang dengan mudah dapat dinikmati pengunjung. Nah, jika sudah merasa letih mengelilingi Komplek Wat Pho, di belakang candi ini ada sebuah Sekolah Pijat Tradisional Thailand. Dengan bayaran 150-200 bath, siswa-siswa sekolah ini dapat memberikan pijatan ala biksu di sekujur tubuh kita selama 30 menit. Dijamin badan yang tadinya pegal-pegal, menjadi segar kembali. Namun sayangnya karena mepet waktu, saya tidak sempat menikmati pijatan khas para biksu Thailand. (**)

Rabu, 23 Desember 2009

Menikmati Vientiane dari atas Kolao 09


Bukannya mau meniru Ernesto Che Guevara, pejuang revolusi Argentina yang di kala muda berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Namun seperti itulah yang saya lakukan, saat mengunjungi Vientiane, Laos, 7-20 Desember lalu, untuk meliput SEA Games XXV 2009. Selama di ibukota negara berfaham Komunis itu, saya selalu setia di atas sepeda motor matic sewaan merek Kolao (Korea-Lao), mengunjungi sejumlah objek wisata Laos yang sangat eksotis.
Objek wisata di Vientiane yang pertama kali dijejaki roda-roda Kolaomatic 09 yang saya tunggangi yakni Patuxay Park atau lapangan kemerdekaan. Di lapangan yang terletak di jantung Vientiane, berdiri sebuah bangunan unik. Sebuah bangunan yang mirip sekali dengan Arc de Triomphe di Paris. Wajar, karena Laos sempat beberapa saat menjadi daerah jajahan Perancis.

Monumen yang dijuluki Champs Elysées dari Timur itu, dibangun antara 1962 dan 1968 untuk menghormati para pahlawan Laos yang berjuang membebaskan negeri itu dari penjajahan Perancis. Dari puncak monumen besar yang dapat dinaiki itu, kita menikmati suasana indah Patuxay Park yang berhadapan dengan gedung pemerintahan dan juga dihiasi air terjun menari. Yang menarik, di Patuxay Park Palembang Pos menemukan Gong Perdamaian yang merupakan sumbangan Indonesia. Monumen gong itu, ada di ujung Patuxay Park.
Puas menjelajahi Patuxay Park dengan beragam sisi eksotisnya, Kolaomatic 09 saya arahkan ke sebuah monumen kuno yang berada di dekat Kedubes AS. Ya, sebuah kuil kusam bernama That Dam. Saking kusamnya, kuil terbesar di Vientiane ini dijuluki Black Stupa.


Ada lagi kuil yang identik dengan Laos. Kuil bernama bernama That Luang itu menjadi ikon negeri seribu gajah itu. Hal ini tak berlebihan, karena selain sebagai pusat spiritual, That Luang menjadi simbol kemerdekaan Laos dan kedaulatan sejak zaman Lane Xang, beberapa ratus tahun yang lalu. Konon, di stupa That Luang dahulu kala ada stupa kecil dari emas murni. Namun stupa emas itu dijarah pada saat invasi Haw pada akhir abad ke-19
Tetap setia dengan Kolaomatic 09, saya menuju Sungai Mekong. Jangan bayangkan sungai ini seperti Musi di Palembang. Sebab di siang hari Mekong kurang enak dipandang mata, karena dihiasi gundukan pasir yang baru dikeruk. Suasana pinggiran Mekong mulai hidup di malam hari, saat di sepanjang jalan di sisi sungai itu dipenuhi pedagang kali lima. Saat itulah, Sungai Mekong mulai dibanjiri turis-turis asing.


Nah di pinggiran Sungai Mekong, sekitar 24 km dari Vientiane, ada sebuah taman yang dipenuhi ratusan patung-patung Budha dan Hindu. Oleh warga Laos, taman yang dikenal dengan nama Budha Park itu, disebut Xien Khuan atau Kota Arwah. Beragam karakter patung Budha dan cerita Hindu ada di taman ini. Yang paling menarik perhatian adalah patung Buddha posisi berbaring dengan satu tangan menyangga kepala.
Puas menikmati objek wisata sejarah, Kolaomatic 09 saya arahkan ke sentra cendera mata khas Laos, Market Morning. Lucunya warga Vientiane banyak yang tidak tahu saat ditanya Market Morning, walau tulisannya tertera besar-besar di pasar tersebut. Wajar saja, karena disini sangat minim yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, hanya untuk percakapan dasar.
Di Market Morning, beragam cinderamata dapat kita dapatkan. Mulai dari kain khas Laos, gantungan kunci, baju bergambar gajah sebagai hewan nasional Laos, termasuk juga minyak kobra. Harganya juga beragam, ada yang mahal, tak sedikit pula yang miring. Enaknya, nilai mata uang Laos, Kip, sama dengan Rupiah. Sehingga tak pusing menghitung kurs, karena langsung bisa tawar menawar menggunakan kalkulator.



Satu lagi sisi menarik yang saya temukan di Laos. Untuk satu jenis barang, harga jualnya sama, apakah di mall (yang lebih mirip shoping centre daripada mall) atau pasar tradisional seperti Market Morning. Misalnya kerajinan kayu tempat pena dan kartu nama, baik di mall maupun Market Morning harganya sama, 40 ribu-50 ribu Kip. Harga itu masih bisa turun sedikit, tapi itu tergantung kepintaran pembeli menawar. Oke cinderamata sudah ada di tangan, saya beranjak meninggalkan Morning Market sambil mengucapkan salam khas warga Laos dan ucapan terima kasih, sabaidee......khop chai...lye...lye (baca: kopcai....lai...lai...)(**)

Senin, 17 Agustus 2009

Putihnya pasir Pantai Panjang Bengkulu



SALAH satu destinasi wisata di Kota Bengkulu adalah Pantai Panjang. Pantai dengan pasir putih yang hanya berjarak 3 km dari pusat Kota Bengkulu, layak dijadikan wisata andalan. Bagaimana tidak, jika ke Bengkulu tidak menikmati deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Panjang, serasa tak menapaki Bumi Raflesia secara sempurna.
Kunjungan saya ke Pantai Panjang kali ini, merupakan kunjungan kedua setelah pada 1997 silam. Saat itu Pantai Panjang yang terbentang sejauh 7 kilometer dan lebar 500-an meter dengan pantai yang landai, masih belum banyak tersentuh penataan. Semuanya dibiarkan “alami” dan apa adanya. Kalaupun ada bangunan wisata, hanya sekedarnya.
Pemandangan berbeda saya rasakan saat kembali menapaki pasir putih Pantai Panjang. Soalnya, kini suasana sudah amat berubah. Pantai Panjang benar-benar menjadi objek wisata andalan Bengkulu. Setiap sudut di pantai ini ditata guna menciptakan rasa nyaman bagi para pengunjung.



Tidak itu saja, untuk mencari tempat bermalam di sini juga sangat mudah. Karena di sepanjang pantai, kini berdiri sejumlah hotel berbintang dan cottage dengan fasilitas luks. Tidak itu saja, kini juga ada pusat hiburan malam, restoran, kolam renang dan tempat bermain anak-anak.
Sehingga wisatawan kini dapat menikmati nuansa alam Pantai Panjang dengan santai. Tinggal buka pintu hotel, pantai sudah ada di seberang jalan. Bahkan saat membuka tirai hotel, putihnya debur ombak sudah terlihat jelas.
Selain kemudahan mencari penginapan, wisatawan juga disuguhi berbagai atraksi menarik di Pantai Panjang. Mulai dari jetsky hingga banana boat. Pokoknya adrenaline wisatawan akan dipacu dengan atraksi-atraksi tersebut. Tapi bagi yang hanya ingin menikmati semilir angin pantai jangan khawatir, karena berbagai sarana juga tersedia.
Mau dengan naik delman atau jalan kaki. Pokoknya asyiknya tak terkira. Belum lagi atraksi gajah-gajah lucu yang siap membawa kita menyusuri kawasan pantai. Walau sudah ditata disana-sini, kesan alami Pantai Panjang masih terus dipertahankan. Apalagi deretan Pohon Cemara dan Pinus yang layaknya menjadi pagar penjaga pantai masih terawat dengan baik.



Menurut Ali, warga Bengkulu, Pantai Panjang kini menjadi tujuan wisata utama warga Bengkulu, bahkan dari provinsi tetangga, seperti Sumsel misalnya. “Setiap hari libur, banyak orang yang sengaja datang untuk menikmati suasana alami Pantai Panjang. Puncaknya sore hari, saat matahari terbenam. Banyak yang datang dengan keluarga, menggelar tikar, dan makan-makan bersama,’’ ujarnya.
Hanya saja, Ali masih menyayangkan penerangan di kawasan Pantai Panjang yang masih minim. “Kalau sudah malam, kawasan ini gelap gulita. Cahaya hanya datang dari deretan hotel itu saja. Sangat bagus jika penerangan di kawasan ini diperbanyak, sehingga pada malam haripun Nampak tetap cantik,’’ harapnya seraya menambahkan selain Pantai Panjang, di Bengkulu juga ada pantai lain yang menjadi objek wisata yakni Pantai Tapak Paderi dan Jakat. (**)

Fort Marlborough, warisan kolonial Inggris


JIKA berkunjung ke Bengkulu, serasa tak lengkap jika tidak menyambangi benteng peninggalan Inggris terbesar di Indonesia, Fort Marlborough. Benteng ini merupakan salah satu warisan masa kolonial Inggris di Bumi Indonesia yang masih bertahan hingga kini.
Benteng yang dibangun selama 6 tahun (1713-1719) pada masa Gubernur Joseph Callet berkuasa di Bengkulu, berdiri kokoh di atas dataran seluas 44.100,5 meter2, panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m, dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter. Benteng ini menghadap tepi laut, tepatnya Pantai Tapak Paderi.
Sangat gampang menuju benteng ini, karena masih di dalam Kota Bengkulu. Hanya dengan membayar Rp 2500 perorang, kita sudah dapat menjelajahi masa kejayaan perdagangan Inggris di Bengkulu. Karena selain aktifitas militer, benteng ini dulu juga dijadikan tempat koordinasi kelancaran suplai lada perusahaan dagang Inggris, East Indian Company (EIC), dan pusat pengawasan bagi jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.



Benteng Marlborough berbentuk kura-kura dengan kepala ke barat daya. Pintu masuk benteng mengarah ke barat, yaitu sisi mata kanan kura-kura dengan pintu masuk dan jembatan yang menghubungkan jalan masuk dengan bagian luar.
Pada bagian kepala dan badan dihubungkan dengan jembatan yang membentuk bagian leher. Pada bagian belakang benteng terdapat pintu masuk dari belakang dan sebuah jembatan di atas parit yang membentuk bagian ekor. Pada masanya, ketiga jembatan itu dapat diangkat dan diturunkan. Disekeliling benteng dari batas terluar dinding masih terdapat batas-batas asli berupa parit-parit.
Saat kita memasuki Fort Marlborough, kita disambut 4 buah nisan, yang dua diantaranya merupakan peninggalan masa Benteng York (benteng yang dibangun Inggris sebelum Benteng Marlborough). Pada nisan-nisan tersebut tertera nama George Shaw (1704), Richard Watts Esq (1705), Capt. James Coney (1737), dan Henry Stirling (1774).
Tak jauh dari nisan tersebut, kita disambut 3 buah makam. Menurut informasi, ketiga malam itu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Konon dulunya, Fort Marlborough juga menjadi tempat tinggal petinggi militer Inggris dan pegawai EIC.



Konon pada 1792 di benteng itu berdiam lebih dari 90 pegawai sipil dan militer. Sehingga bisa dikatakan, Fort Marlborough kala itu ibarat sebuah kota dalam benteng. Ini diperkuat dengan catatan-catatan perkawinan, pembaptisan, dan kematian, yang masih tersimpan rapi di dalam benteng ini.
Setiap bangunan di benteng ini mempunyai ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat tahanan, gudang persenjataan, perlengkapan dan kantor. Pada tiap kaki kura-kura (bastion) terdapat beberapa pucuk meriam, baik berukuran besar maupun berukuran kecil.
Pada bagian bawah bangunan kaki kura-kura bagian utara, terdapat terowongan yang berukuran panjang 6 m dan lebar 2 meter. Dalam bangunan terdapat lubang perlindungan yang dipergunakan sebagai jalan keluar dari kepungan musuh. Bagian tengah benteng terbuka tanpa atap, sedang lantainya terbuat dari ubin, batu kali atau karang sedang atap terbuat dari genteng.
Pintu gerbang dan pintu-pintu ruangan lainnya terbuat dari kayu yang diberi penguat berupa pasak-pasak besi. Sedangkan ruang tahanan menggunakan terali besi. Menurut sejarah, di salah satu ruangan ini, pernah ditahan Bung Karno. Namun disayangkan, kenikmatan mengenang masa lalu di benteng yang sangat bersejarah ini agak berkurang, karena bau pesing di sejumlah ruangan dalam benteng. (**)