Minggu, 17 Juni 2012

Winter Sonata jadi Tujuan Wisata

Selama kunjungan ke Korea Februari 2012 lalu, saya benar-benar dibuat takjub dengan penggarapan objek wisata yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Selain menata objek wisata alami seperti ski resort hingga yang modern seperti Lotte World, pemerintah Korea juga mampu menjadikan lokasi syuting drama Korea sebagai objek memancing turis. Salah satunya lokasi syuting Winter Sonata di Pulau Nami. Untuk urusan menata wisata, Korea tidak perlu diragukan lagi. Bagaimana tidak, negeri yang hingga kini statusnya perang dengan Korea Utara itu benar-benar menjadikan wisata sebagai sarana pemasukan negara, selain indusri tentunya. Soalnya, Korea tidak bisa mengandalkan diri pada sumber daya alam yang amat minim. Negara yang 70 persen didominasi gunung batu itu, minus minyak bumi dan sangat tergantung dengan pasokan minyak dunia. Sehingga penataan objek-objek wisata di Korea benar-benar dilakukan dengan amat padu. Beragam layanan yang bisa membuat turis nyaman dibuat di sejumlah ojek wisata. Mulai hotel, rumah makan, money changer, hingga layanan lainnya. Sehingga jika sudah menikmati wisata di Korea, dipastikan sang turis ingin kembali lagi ke negeri tersebut. Selain itu, pemerintah Korea tahu benar memanfaatkan film Korea yang begitu mendunia menjadi salah satu trik menarik wisatawan. Sebut saja dua drama fenomenal Endless Love dan Winter Sonata. Phoenix Park Resort yang menjadi lokasi syuting Endless Love, drama haru biru yang diperankan Song Seung Hun dan Song Hye Kyo, dijadikan penarik turis, selain ski resortnya. Kebetulan Hotel Phoenix Park Resort menjadi tempat Palembang Pos menginap selama di kawasan resort yang ada di Kwangwon-do tersebut. Lokasi syuting yang jadi objek utama wisata turis, terlebih lagi kaum hawa asal Indonesia, adalah Pulau Nami. Pulau yang lokasinya di Chuncheon-si, Provinsi Gwangwon-do, pada tahun 2002 silam menjadi lokasi syuting drama Winter Sonata. Di pulau yang terdapat makam Jenderal Nami, salah seorang jenderal muda Korea di masa dahulu, akting Kang Jun-sang dan Jung Yu-jin mampu menyihir fans di berbagai negara asia, terutama Jepang, China, Thailand dan Indonesia. Saat saya berkunjung ke Pulau Nami, suasana musim dingin masih terasa, walau sudah mulai menginjak musim semi. Es yang menutupi pepohonan baru mencair, dan suhu masih dikisaran minus 4 derajat. Bisa dibayangkan dinginnya kawasan Pulau Nami. Tapi suasana yang dingin tidak membuat peminat Winter Sonata mengurungkan niatnya, untuk berpose di depan patung Kang Jun-sang dan Jung Yu-jin. “Turis Indonesia yang kebanyakan wanita, lebih memilih berwisata ke Pulau Nami. Memang yang hobi drama Winter Sonata kebanyakan ibu-ibu ya,’’ ujar Che-Eon, guide yang mengantar Palembang Pos dan rombongan ke pulau tersebut. Selain ke Pulau Nami dan berski-ria di Phoenix Park Resort, daerah wisata lain yang sempat saya kunjungi selama di Korea yakni Gwongeumsung Fortress Hill dan patung Budha setinggi 18 meter di Mount Sorak. Dengan menaiki cable car, Palembang Pos menapaki dinginnya salju puncak tertinggi dari rangkaian Pegunungan Taebaek terletak di Provinsi Gangwon. Menariknya di puncak Mount Sorak, ada cafĂ© yang menyajikan minuman andalan kopi Mandailing. Terpampang jelas karung goni kopi bertuliskan Indonesia di kafe tersebut. Objek wisata sejarah pun sempat saya kunjungi selama di Korea. Salah satunya Gyeongbok Palace, yang ada di Seoul. Istana yang merupakan versi kecil dari istana di Forbiden City Beijing ini, didirikan oleh Jeong do jeon, seorang arsitek. Istana ini hancur pada saatinvasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun lagi selama tahun 1860-an dengan 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar. Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi, Istana Gyeongbok adalah simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea. Selama di Korea, saya tak lupa menjajal atraksi adrenalin di Lotte World, sebuah kompleks rekreasi yang sangat terkenal dan popular di Seoul. Tempat ini terdiri dari taman bermain didalam ruangan (indoor) terbesar di dunia (hingga masuk dalam Guinness World Record). Lotte World ini terbuka sepanjang tahun, selain taman bermain indoor juga terdapat taman bermain di luar ruangan (outdoor) taman hiburan tersebut disebut dengan sebutan ”Magic Island”, sebuah pulau buatan di tengah-tengah danau yang dihubungkan dengan jalur monorail. Kunjungan Palembang Pos di Korea ditutup dengan tour ke Ametyhs & Gingseng Shop, belajar membuat Kimchi dan mencoba pakaian khas Korea, Hanbok. (**)

Disiplin, Gingseng, hingga Kimchi

Dalam lima tahun terakhir warga disini, khususnya ABG, terkena demam Korea. Mulai dari music, gaya fashion hingga sampai makanan khas Korea, Kimchi (sejenis asinan, red) pun kini digandrungi kaum muda disini. Nah, Februari 2012 lalu saya mendapat kesempatan langka melongok langsung polah hidup warga Korea langsung dari tanahnya. Selain yang sudah mendemami Indonesia, ternyata banyak hal yang patut kita tiru, tapi tak sedikit pula yang sebaiknya kita hindari. Pertama kali mendarat di Incheon Airport, sebuah bandara nan megah di Seoul, Palembang Pos sudah disuguhi pelajaran pertama dari warga Korea. Mulai dari bandara, sepanjang jalan hingga ke pusat kota, tak secuilpun saya menemukan sampah. Rupanya disiplin untuk hidup bersih sudah benar-benar menjadi budaya keseharian warga Korea. Bagi mereka, bersih itu harga mati. Menurut Che-Eon, guide asli Korea yang fasih berbahasa Indonesia, budaya hidup bersih tumbuh dari kedisiplinan warga Korea mematuhi aturan. “Warga disini patuh dengan hukum. Mereka takut melanggar aturan, termasuk juga soal sampah. Karena sekali ketahuan saja membuang sampah di jalan, mereka memberi hukuman denda hingga 40 ribu Won atau setara 300 ribu rupiah. Belum lagi ancaman hukuman penjaranya,’’ tegas Che-Eon. Selain soal kebersihan, saya melihat sendiri warga Korea begitu disiplin dalam hal berlalu lintas. Mereka tidak akan menyeberang jalan, kalau lampu tanda menyeberang tidak berwarna hijau. Bahkan saat di jalan tidak ada kendaraan di malam hari sekalipun, mereka tetap patuh dengan aturan itu. Karena seperti biasa, jika kepergok polisi, hukuman langsung jatuh. Sebagai catatan, penegak hukum di Korea juga tak bisa disogok. “Soalnya pernah kejadian ada polisi Korea yang bermain, dan dia dilaporkan oleh warga ke pemerintah. Akibatnya, polisi itu kena sanksi tegas. Saking tegasnya hukum disini, mantan Presiden Korea, Chun Doo Hwan dan Roh Tae Woo, tak kebal hukum. Mereka sempat mendekam di penjara karena kasus korupsi,’’ ungkap Che-Eon. Disiplin waktu juga menjadi catatan khusus di Korea. Khidupan sehari-hari disini betul-betul tegas dengan disiplin waktu. Bahkan pernah terjadi hanya karena telat beberapa menit saja, 12 turis Indonesia ditinggal terbang oleh pesawat Korea. Karena saat para turis tiba di pintu kedatangan, pintu pesawat sudah ditutup. “Padahal jika mereka memperbolehkan turis Indonesia itu naik pesawat dan duduk, paling hanya terbulang beberapa menit. Tapi karena disiplin waktu, mereka lebih memilih tak membuka pintu dan mengeluarkan koper-koper turis Indonesia yang justru menghabiskan waktu setengah jam lebih,’’ ujar Che-Eon yang selama mendampingi saya dan rombongan tampak juga ketat dengan waktu. Pelajaran lainnya warga Korea sadar dengan kesehatan. Bagi mereka rasa tak penting jika dibandingkan kesehatan yang bisa didapat. Sehingga tidak berlebihan jika kebanyakan menu di Korea padat gizi dan sehat. Semisal Kimchi. Asinan yang bisa dibuat dari sayuran, buahan dan daging itu, begitu digandrungi oleh warga Korea. “Memang rasanya tidak enak, tapi Kimchi terbukti kaya manfaat bagi kesehatan. Sebagai bukti saat wabah penyakit SARS melanda beberapa tahun lalu di Jepang dan China yang hanya butuh 1 jam lebih terbang dari Korea, penyakit itu tak berjangkit di sini. Kimchi terbukti meningkatkan kekebalan tubuh. Kini Kimchi menjadi makanan sehari-hari. Selain mudah dibuatnya, juga tahan lama. Bahkan hingga berbulan-bulan,’’ papar Che-Eon. Selain Kimchi, makanan sehat lainnya di Korea adalah Gingseng. Soal Gingseng tak perlu dikupas lebih jauh, karena manfaatnya sudah dipercaya hingga ribuan tahun. Mulai dari Paus Jhon Paul II, Ratu Elizabeth II hingga Keluarga Kaisar Akihito, sudah membuktikan keunggukan Gingseng Korea yang tak bisa ditemui di tempat lain. Selain yang patut kita tiru, ada juga polah warga Korea yang tak lazim di Indonesia. Banyak anak muda di Korea memilih tidak beragama. Keyakinan mereka hanya pada diri sendiri. “Menurut mereka agama itu bukan hal yang penting. Sebuah negara banyak orang beragama, tapi banyak juga orang jahat. Sedang disini banyak yang tak beragama, tapi banyak orang baik,’’ ungkap Che-Eon yang mengaku jujur memilih tak beragama ini. Satu lagi yang tak patut ditiru dari polah warga Korea kini, yakni kebebasan mereka mengungkapkan berekspresi di muka umum. “Anak muda disini benar-benar mengacu ke Amerika. Mereka tak segan-segan berciuman di muka umum. Kami anggap itu hal biasa,’’ tukas Che-Eon. (**)

Minggu, 13 Maret 2011

Warga yang Cinta Produk Dalam Negeri

Salah satu kiat sukses China menjadi tuan rumah even olahraga akbar Asian Games dan Olympiade, yakni bangga dengan produk dalam negeri. Pemerintah dan masyarakat sangat aktif memperkenalkan produk kebanggaan mereka pada turis asing, mulai dari jamu, batu akik hingga sutera. Selama kunjungan di China pekan lalu, saya juga “diwajibkan” mengunjungi pabrik-pabrik ternama di Negeri Tirai Bambu tersebut
Hari pertama menapakkan kaki di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di Shanghai, saya dan rombongan sudah dibawa lokal guide, Johan, menuju pabrik pemintalan dan produksi kain sutra. Di pabrik ini, terlihat jelas kebanggaan bangsa China terhadap asset lokal yang kini sudah mendunia, yakni kain sutra.
Kepada rombongan, juru bicara pabrik, menjelaskan rute-rute perdagangan sutera zaman silam yang melegenda yakni Silk Road (jalur sutera). Selain itu, juga dijelaskan secara detail mengenai produksi kain sutera, mulai dari proses pemintalan kepompong ulat sutera hingga menjadi kain sutera yang bermutu tinggi.


Selain menyaksikan bagaimana produksi kain sutera secara langsung, kami juga diajarkan bagaimana cara memilih kain sutera yang baik dan bermutu tinggi. “Produksi kami selain bermutu tinggi juga higienis, karena tidak menyebabkan iritasi pada kulit pemakainya, ’’ ujar karyawan pabrik sutera tersebut.
Hal serupa juga saya alami saat menjejakkan kaki di Beijing. Selama 3 hari, praktis tour guide, Fung-fung, membawa kami ke sejumlah pabrik dengan produk unggulan yang sudah mendunia. Mulai dari pabrik obat-obatan, batu akik, teh, hingga jamu. “Semua pabrik tersebut milik negara. Memang 70 persen industri besar di China dimiliki negara. Ada juga yang dimiliki swasta, tapi tidak banyak. Kami diwajibkan untuk membawa turis asing ke pabrik-pabrik itu agar bisa memperkenalkan produk kami ke manca negara,’’ jelas Fung-fung yang mengaku pernah 3 tahun bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di Jakarta.
Kata “wajib” yang disebut Fung-fung, benar-benar dijalankan. Tidak satupun pabrik yang ada dalam jadwal tour di Beijing, yang luput dari kunjungan saya dan rombongan. “Tidak membeli obat atau batu akik tidak masalah. Yang penting, kami sudah membawa turis ke pabrik-pabrik itu dan memperkenalkan produksi China yang sudah mendunia,’’ ungkap Fung-fung. Bahkan lokal guide ini “berjuang mati-matian”, agar jadwal kunjungan ke pabrik-pabrik itu tidak batal. “Soalnya ini diwajibkan pemerintah,’’ ungkap Fung-fung.
Dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap cinta produk dalam negeri, dibenarkan Otong, penerjemah asli Sunda yang sengaja dikontrak pemerintah China khusus untuk mendampingi turis Melayu, baik Indonesia, Malaysia hingga Singapura. “Saya sudah beberapa tahun bekerja di pabrik obat di China sebagai penerjemah. Kami dengan beberapa orang Indonesia, dikontrak khusus mendampingi turis Melayu,’’ ujar Otong dengan logat Sundanya yang amat kental.



Dengan pendekatan “Indonesia”, Otong mendampingi kami mencoba pengobatan khas China. Mulai dari merendam kaki dengan cairan khusus, hingga deteksi kesehatan oleh para profesor China. Semuanya dilakukan dengan telaten, hingga menyebabkan Palembang Pos dan rombongan akhirnya dengan rela melepas beberapa ratus, atau bahkan beberapa ribu Yuan, hanya untuk membeli obat gosok hingga obat rendam kaki.
“Tidak rugi membeli obat disini. Karena produk di pabrik kami sudah terkenal hingga manca negara,’’ bujuk Otong. Dari kunjungan ke beberapa pabrik terkenal di China, pelajaran berharga yang dapat dipetik yakni betapa gigihnya bangsa China memperkenalkan produksi dalam negerinya ke manca negara. Saking gigihnya memasarkan produk China, pemerintah disini juga mewajibkan pabrik-pabrik mengontrak penerjemah khusus, atau paling tidak mendidik karyawannya untuk memahami bahasa asing.
Seperti yang saya lihat di pabrik teh yang ada di pusat kota Beijing. Di pabrik ini memang tidak ada penerjemah khusus untuk turis Indonesia, seperti di pabrik obat. Tapi beberapa karyawannya bisa disebut fasih dalam berbahasa Indonesia. Padahal, mereka baru beberapa bulan belajar Bahasa Indonesia. Kepada saya, salah seorang karyawan, Lian, mengaku belajar Bahasa Indonesia selama 4 bulan. “Sehingga wajar, bahasa saya masih patah-patah. Tapi saya terus mencoba ngobrol dengan turis, guna melancarkan Bahasa Indonesia saya,’’ ungkap gadis ini.
Selain hasil industri besar, dukungan pemerintah dan peran aktif masyarakat juga terlihat dengan menggeliatnya sentra-sentra pasar yang menjual berbagai macam produk, mulai dari kelas mall besar hingga pasar rakyat. Seperti di Nanjing Road Shanghai hingga Yashow/Yaxiu Market di Beijing, yang merupakan sentra produk-produk murah dan amat terkenal dikalangan turis manca negara.


”Disini umumnya barang yang dijual umumnya tidak kena pajak, sehingga harganya bisa jauh lebih murah dari yang dijual di mall. Sehingga wajar saja, jika Yaxiu Market sangat terkenal pada turis manca negara. Tapi untuk mendapat harga murah itu, kembali kepada kepiawaian turis menawar,’’ ujar Fung-fung. Apa yang dikatakan Fung-fung memang cukup beralasan, jika melihat harga tawar hingga harga jadi produk di pasar ini. Misalkan untuk jaket aspal yang awalnya dihargai 780 Yuan, setelah tawar-menawar bisa turun menjadi 150-200 Yuan saja. (**)

Megahnya Stadion Sarang Burung


Sebagai rujukan menimba ilmu jelang digelarnya SEA Games 2011 di Sumsel, saya bersama sejumlah rekan pers Palembang, pekan lalu secara khusus mendapat kesempatan langka menyambangi komplek Stadion Nasional Beijing, tempat opening dan closing Olympiade 2008 digelar.
Stadion megah yang dipagari deretan hotel mewah dan taman bunga dan pohon gundul akibat baru melalui musim dingin tersebut, terbilang unik. Bagaimana tidak, bentuknya menyerupai sarang burung walet. Panel-panel baja tampak tersusun rapi, membentuk sarang burung walet raksasa.
Sehingga adalah wajar, jika stadion itu disebut Bird Nest Building atau Niao Chiao dalam bahasa China yang berarti sarang burung. “Karena bentuknya mirip sarang burung walet, warga Beijing juga menyebutnya Stadion Sarang Burung,’’ ujar Fung-fung, tour guide lokal Beijing. Sebelum tiba di dalam komplek stadion, saya terlebih dahulu melalui sebuah lapangan (plaza) yang amat luas.
Bak plaza Benteng Kuto Besak, plaza Stadion Sarang Burung juga dipadati warga yang sekedar membunuh waktu atau sengaja ingin menikmati megah dan cantiknya stadion itu. Kondisi angin kencang yang dinginnya dengan suhu berkisar 1-7 derajat Celcius, menyebabkan warga harus memakai jaket tebal, syal, penutup kepala, hingga sarung tangan. Walau gerak jadi terbatas, tak mengurangi antusias warga foto-foto di depan stadion unik tersebut.


Di dekat Stadion Sarang Burung, juga berdiri sejumlah gedung megah, mulai dari Pusat Akuatik Nasional, Gedung Pertemuan, hingga Gedung Budaya Wukesong Beijing. Secara keseluruhan, lokasi stadion nasional tersebut dikenal dengan nama Taman Olympiade. Menurut informasi, pemerintah China harus mengeluarkan Rp 19 Triliun untuk membangun kawasan tersebut. “Untuk musim liburan saat ini (pergantian musim dingin ke semi, red), kawasan ini dikunjungi 20 ribu orang perhari. Kalau musim liburan pada awal Juli (musim panas, red), jumlah pengunjung lebih banyak lagi. Mulai dari turis lokal hingga asing,’’ papar Fung-fung.
Selain venuesnya mampu menjadi objek kunjungan turis, pasca gelaran Asian Games dan Olympiade, kata Fung-fung, kecintaan warga China pada olahraga semakin besar. Pemerintah memfasilitasinya gairah berolahraga itu, dengan membangun sejumlah sarana olahraga yang baik. Mulai dari lapangan bola, futsal, dan atletik di masing-masing kawasan, hingga sarana fitness gratis di setiap apartemen.
Sehingga menjadi pemandangan umum, jika tampak antrean warga di Beijing yang hendak berolahraga. Secara khusus saya memberikan nilai plus bagi fasilitas fitness gratis yang dibangun di masing-masing apartemen.



Memang pemerintah Beijing dan sejumlah kota besar di China, melarang warganya memiliki rumah dan tanah. Semuanya tinggal di apartemen. Dengan fasilitas fitness yang lengkap dan gratis, kapan saja warga Beijing bisa berolahraga. “Malah saya pernah karena tidak bisa tidur di malam hari, menghabiskan waktu untuk berolahraga fitness sendirian. Soal keamanan, jangan khawatir karena disini (Beijing, red) tak sama dengan Jakarta,’’ papar Fung-fung.
Dukungan pemerintah China bagi warganya untuk giat berolahraga berbuah manis, dengan kian superiornya atlet negara yang juga disebut Tiongkok itu dalam percaturan olahraga di dunia. “Kami ada 2 atlet basket yang main di NBA (liga bola basket AS, red), salah satunya Yao Ming. Kalau bulutangkis tak perlu ditanya lagi. Apakah ada atlet bola basket Indonesia yang main di NBA?” tanya Fung-fung. Pertanyaan Fung-fung langsung dijawab saya dengan gelengan kepala.
Nah, kisah sukses China menggelar Asian Games dan Olympiade yang berbuah manis dengan majunya olahraga di Negeri Tirai Bambu tersebut, sedikit banyak bisa ditiru Indonesia, atau Sumsel khususnya, dengan menggelar dan mensukseskan SEA Games 2011 pada 11 November nanti. Dengan suksesnya gelaran even SEA Games, kita berharap akan menularkan “virus sukses” pada dunia olahraga kita. Dengan berjayanya dunia olahraga Indonesia, rasa bangga menjadi warga Indonesia akan kembali tumbuh dan kuat. Semoga…(**)

Kota Tertib, yang Bebas Polusi dan Sampah


Soal sukses menjadi tuan rumah even akbar olahraga, Cina patut menjadi rujukan Sumsel yang akan menggelar SEA Games 2011. Selain sukses menggelar Asian Games 1990 dan 2010, China juga mampu menghelat Olympiade pada 2008 silam. Guna belajar kiat sukses China, Saya bersama sejumlah insan pers Palembang mulai 28 Februari hingga 7 Maret mendapat kesempatan langka mengunjungi Kota Shanghai dan Beijing, Republik Rakyat China (RRC).
Tak bisa dipungkiri, China sejak dahulu kala sudah menjadi rujukan berbagai bangsa untuk menimba ilmu. Bahkan ada pepatah lama, yang menyebutkan agar kita dapat terus menuntut ilmu, bahkan sampai ke Negeri China sekalipun. Sehingga adalah tepat jika Sumsel menjadikan China sebagai rujukan menimba ilmu, sebelum menggelar SEA Games pada 11 November 2011 kelak.
Pasalnya, untuk urusan gelaran olahraga multi even, China tak perlu diragukan. Negeri Tirai Bambu ini sukses menggelar Asian Games pada 1990 dan 2010 serta Olympiade pada 2008 silam. Kisah sukses China atau yang akrab disebut juga Tiongkok itu, tak lepas dari disiplin dan etos kerja masyarakat yang benar-benar patut diacungi jempol.
Contoh disiplin tinggi warga China, terlihat dari lalu lintas di Shanghai dan Beijing. Warga disini patuh dengan aturan berlalu lintas. Bagaimana bisa demikian? Karena aturan dan petugas lalu lintas sangat tegas. Bayangkan saja, di setiap lampu merah bisa dipastikan ada kamera CCTV. Jika tertangkap kamera melanggar peraturan lalu lintas, sanksi yang dijatuhkan lumayan berat.
“Pada akhir bulan si pelanggar mendapat tagihan yang jumlahnya bisa mencapai 500 yuan atas setara dengan Rp 675.000 (1 Yuan = Rp 1.350). Jika tidak membayar denda, kendaraan yang melanggar akan diambil oleh pemerintah. Warga disini juga tidak kenal dengan istilah suap atau sogok menyogok petugas, karena dia bisa dihukum berat. Selain itu, sudah puluhan pejabat China yang dihukum mati karena korupsi,’’ jelas Johan, guide lokal Shanghai yang fasih berbahasa Indonesia.


Ketertiban berlalu lintas, lanjut Johan, juga karena pemerintah setempat melarang hadirnya sepeda motor. Sebagai sarana transportasi pengganti sepeda motor, warga lebih memilih bus, taksi, subway (KA bawah tanah), sepeda angin atau sepeda elektrik bertenaga accu yang aman polusi. Dengan tidak adanya sepeda motor, praktis lalu lintas di Shanghai dan Beijing tertib dan bebas polusi. Pertanyaan timbul kemana larinya sepeda motor produksi China? “Umumnya sepeda motor made in China dikirim ke daerah-daerah luar kota, atau ke luar negeri,’’ ujar Johan. Juga soal kebersihan, warga China sejak dahulu dididik malu membuang sampah sembarangan. Sehingga wajar saja, walaupun termasuk berpenduduk padat, baik di Shanghai maupun Beijing tak pernah terlihat tumpukan sampah di pinggir jalan.
“Budaya di sini sudah tertanam rasa malu. Siapapun yang membuang sampah sembarangan akan malu dilihat orang lain. Termasuk pengemis, mereka malu untuk meminta kepada turis dari luar. Mereka akan minta kepada penduduk lokal. Biasanya mereka pun datang dari luar kota,” tutur Johan.
Fung-fung menambahkan, 5 tahun lalu sebagian warga China, khususnya Beijing, kehidupannya masih agak jorok. “Itu bisa dilihat dari kondisi WC umum yang ada di setiap kawasan, mulai terminal, pasar, hingga objek wisata. Saat itu sulit menemukan WC umum yang bersih. Namun kini, kondisinya lebih baik,’’ ujar Fung-fung.


Untuk membuktikan perkataan Fung-fung, saya memasuki salah satu WC umum yang ada di kawasan wisata Summer Palace (Istana Musim Panas, red), yang ada di Distrik Hidian, tepatnya dibagian barat laut pusat Kota Beijing. Walau sudah tidak jorok, tapi sisa-sisa “masa kegelapan” masih saya temukan. Air pembilas masih menjadi barang langka, karena warga disini masih menggunakan tisu untuk membersihkan bekas buang air.
Karena air pembilas tak ada, bau menyengat khas WC umum masih tercium. Guna menghilangkan bau tersebut, pengelola WC umum memberi beberapa buah kapur barus di masing-masing kloset. Nah, bagi turis yang masih kurang puas jika tak membilas bekas buang air dengan air, seperti turis asal Indonesia, membawa botol air mineral dan tisu basah menjadi solusi yang tepat.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Fung-fung, lelaki supel berkacamata itu tak membantahnya. “Ya, kondisinya memang demikian. Walau belum bisa dibandingkan dengan WC umum di Singapura, namun kebersihannya sudah lebih baik jika dibandingkan 5 tahun lalu,’’ jelas Fung-fung. (**)

Sabtu, 12 Maret 2011

Dari Forbidden City hingga Great Wall

Selama 28 Februari-4 Maret 2011 lalu, saya dan sejumlah wartawan Palembang mendapatkan kesempatan menyusuri sejumlah objek wisata terkenal di Kota Shanghai dan Beijung, Republik Rakyat China (RRC) atau yang dikenal juga dengan Tiongkok. Didampingi Kabid Humas KONI Sumsel, Riduan T dan Humas Pemprov Sumsel, Thontowi HE Permana, saya merasakan benar wisata yang sudah menjadi sebuah industri.
Dengan menumpang pesawat Garuda, saya dan rombongan tiba di tanah China, tepatnya bandara internasional Pudong, Shanghai. Suhu yang amat dingin, 1-7 derajat celcius seketika menerpa tubuh saya yang kebetulan hanya memakai jaket tipis. “Wajar dingin, karena disini baru saja berganti musim dari dingin ke semi,’’ ujar Johan, local guide Shanghai.


Keluar dari Pudong Airport, kondisi teratur dan disiplin langsung saya rasakan . “Disini warganya disiplin, baik berlalu lintas maupun menjaga kebersihan,’’ kata Johan. Usai makan siang, saya dan rombongan dibawa Johan ke Oriental Pearl TV Tower. Sebuah menara TV yang terletak di ujung Lujiazui di distrik Pudong, di tepi Sungai Huangpu.
Di menara dengan ketinggian 468 m, saya dapat menikmati keindahan Kota Shanghai yang dulu dikenal dengan kehidupan Gangsternya, dari atas ketinggian. Dari Oriental Pearl TV Tower, kami dibawa ke pinggiran Sungai Huangpu yang dijajari bangunan kuno. “Mirip foto di Eropa,” ujar salah seorang rekan.
Puas menikmati wisata di Shanghai, saya esoknya terbang ke Beijing. Dari bandara internasional Beijing, local guide, Fung-fung langsung membawa rombongan makan siang dan menapaki objek wisata terkenal di Beijing, yakni Forbidden City. Kami diminta bergegas, karena harus tiba di lokasi sebelum pukul 15.00 waktu setempat. Jika lewat tak boleh masuk lagi dalam beberapa hari ke depan, karena kebetulan di dekat lokasi akan digelar rapat parlemen.


Di Forbidden City, saya dibuat terperangah atas mahakarya bangsa Tiongkok tersebut. Terletak persis di tengah-tengah kota kuno Beijing, istana yang juga dikenal dengan Zijìn Chéng (Kota Terlarang Ungu), merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Qing. Lokasi ini memiliki luas sekitar 720,000 m, 800 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan.
Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara. Lokasi istana kerajaan berada di utara dari lapangan Tiananmen dan dapat diakses dari lapangan tersebut melalui Gerbang Tiananmen. Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan.



Tiananmen juga merupakan ojek wisata terkenal. Soalnya di tempati pada 1989 silam, lebih dari 3000 orang tewas dalam sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik di China. Esoknya, kami dibawa Fung-fung menuju Yihe Yuan atau Istana Musim Panas. Istana yang terletak 15 km dari pusat kota Beijing itu, dibangun kali pertama pada zaman Dinasti Jin.
Pada awal pembuatannya, istana ini mempunyai nama Taman Qingyi. Dikembalikan ke fondasi awal yang merupakan karya arsitektur kebun klasik Tiongkok pada tahun 1886, setelah sebagian besar hancur karena perang di tahun 1860. Namanya kemudian diubah menjadi Yuan Ming Yuan dan terakhir menjadi Yihe Yuan oleh Ibusuri Cixi pada tahun 1881. Istana ini betul-betul cantik, karena kombinasi kekayaan alam, seperti bukit dan perairan dengan bangunan buatan manusia, seperti paviliun,balai, kuil, istana dan jembatan. Wajar saja, jika istana ini menjadi salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.



Puncak kunjungan ke objek wisata di Negeri Tirai Bambu yakni ke Tembok Raksasa Cina. Tembok raksasa sepanjang 6.400 km (dari kawasan Shanhai Pass di Timur hingga Lop Nur di Barat) dan tingginya 8 m, dibangun untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu.
Konon untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.
Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Cina.
Di tembok inilah, saya kali pertama menyentuh salju yang masih nampak mengonggok di setiap sudut bangunan ini. Puas menikmati indahnya peninggalan sejarah Tiongkok, saya dan rombonganpun tenggelam dalam asyiknya berburu cinderamata. Sebagai kenang-kenangan, saya pun rela membayar 50 Yuan untuk berpose dengan pakaian khas bangsa China kuno. (**)

Sabtu, 02 Januari 2010

Dari Wat Pho hingga patung Budha tidur



Thailand memang dikenal sebagai negeri yang kaya dengan objek wisata menarik. Tak hanya objek wisata alam, negeri gajah putih ini juga bertabur objek wisata sejarah, salah satunya Candi Wat Pho yang terkenal dengan patung Budha tidurnya.
Bersama kontingen wartawan Sumsel, Putri Sumsel dan KONI Sumsel, Desember lalu saya berkesempatan menjejaki sisi eksotis Candi Wat Pho dan patung Budha tidurnya. Letak komplek Candi Wat Pho tidak terlalu jauh dengan Grand Palace, istana Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Dari gerbang Grand Palace, kita hanya butuh 30 menit berjalan kaki di trotor gerbang candi megah tersebut.
Saat menapaki kaki ke dalam komplek candi yang dibangun pada abad 16 itu, saya sudah menemui ramainya orang yang ingin menyaksikan keindahan Wat Pho dan patung Budha tidur atau Reclaining Budha.



Sebelum memasuki kuil tempat patung Budha tidur, terlebih dahulu saya mengarahkan kaki ke sejumlah kuil yang berornamen khas Thailand yakni ukiran bunga-bungan yang antik. Selain itu, patung-patung khas negeri Siam itu juga banyak terlihat di sekeliling kuil yang ada di dalam komplek Wat Pho.
Saking menakjubkannya keindahan kuil-kuil tersebut, tangan menjadi gatal untuk terus mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Setelah puas mengambil setiap sudut Wat Pho yang kerap disebut Rajanya Candi di Thailand tersebut, saya mengarahkan kaki memasuki kuil tempat patung Budha tidur. Tapi terlebih dahulu, pengunjung wajib membuka alas kaki sebelum masuk.



Untuk dapat memasuki kuil ini, setiap pengunjung dikenai biaya 50 bath 1 orang (1 bath = Rp 2500). Tapi karena masuk secara berombongan yang dikoordinir travel agent, saya tak perlu lagi merogoh kocek sendiri. Beberapa langkah ke dalam kuil yang agak gelap ini, saya terpana dengan sebuah patung Budha raksasa yang sedang dalam posisi tidur.
Patung Budha dari emas ini memiliki panjang 46 meter dengan tinggi 15 meter. Konon emas murni yang dipakai untuk membuat patung ini kabarnya mencapai 5,5 ton. Wah!! saya segera mengeluarkan kamera dan berkali-kali menjepret ke arah patung Budha tidur. Agak melangkah ke dalam, saya menemui semacam kotak sumbangan. Kotak ini memang sengaja disediakan untuk penyumbang.
Menariknya, uang kita diganti semangkuk koin dengan jumlah bervariasi. Dengan koin-koin itulah, pengunjung yang percaya dapat melakukan ritual Sadokoq atau membuang sial. Prosesi ritual itu yakni koin-koin satu persatu diletakkan ke dalam 108 mangkuk yang ada. Jika koinnya habis, maka diyakini yang bersangkutan terbebas dari nasib sial atau keinginannya dapat terkabul. ”Memang banyak pengunjung ke sini untuk membuang sial, mendapat jodoh atau mengharapkan kenaikan pangkat,’’ ujar Imron, guide rombongan Sumsel asli Phatani, Thailand Selatan, yang mahir berbahasa Indonesia.



Selain patung Budha tidur, di komplek Wat Pho juga ada sedikitnya 1000 patung Budha berbagai macam pose. Patung itu disimpan dalam lemari-lemari kaca dan sekitar candi, yang dengan mudah dapat dinikmati pengunjung. Nah, jika sudah merasa letih mengelilingi Komplek Wat Pho, di belakang candi ini ada sebuah Sekolah Pijat Tradisional Thailand. Dengan bayaran 150-200 bath, siswa-siswa sekolah ini dapat memberikan pijatan ala biksu di sekujur tubuh kita selama 30 menit. Dijamin badan yang tadinya pegal-pegal, menjadi segar kembali. Namun sayangnya karena mepet waktu, saya tidak sempat menikmati pijatan khas para biksu Thailand. (**)

Rabu, 23 Desember 2009

Menikmati Vientiane dari atas Kolao 09


Bukannya mau meniru Ernesto Che Guevara, pejuang revolusi Argentina yang di kala muda berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Namun seperti itulah yang saya lakukan, saat mengunjungi Vientiane, Laos, 7-20 Desember lalu, untuk meliput SEA Games XXV 2009. Selama di ibukota negara berfaham Komunis itu, saya selalu setia di atas sepeda motor matic sewaan merek Kolao (Korea-Lao), mengunjungi sejumlah objek wisata Laos yang sangat eksotis.
Objek wisata di Vientiane yang pertama kali dijejaki roda-roda Kolaomatic 09 yang saya tunggangi yakni Patuxay Park atau lapangan kemerdekaan. Di lapangan yang terletak di jantung Vientiane, berdiri sebuah bangunan unik. Sebuah bangunan yang mirip sekali dengan Arc de Triomphe di Paris. Wajar, karena Laos sempat beberapa saat menjadi daerah jajahan Perancis.

Monumen yang dijuluki Champs Elysées dari Timur itu, dibangun antara 1962 dan 1968 untuk menghormati para pahlawan Laos yang berjuang membebaskan negeri itu dari penjajahan Perancis. Dari puncak monumen besar yang dapat dinaiki itu, kita menikmati suasana indah Patuxay Park yang berhadapan dengan gedung pemerintahan dan juga dihiasi air terjun menari. Yang menarik, di Patuxay Park Palembang Pos menemukan Gong Perdamaian yang merupakan sumbangan Indonesia. Monumen gong itu, ada di ujung Patuxay Park.
Puas menjelajahi Patuxay Park dengan beragam sisi eksotisnya, Kolaomatic 09 saya arahkan ke sebuah monumen kuno yang berada di dekat Kedubes AS. Ya, sebuah kuil kusam bernama That Dam. Saking kusamnya, kuil terbesar di Vientiane ini dijuluki Black Stupa.


Ada lagi kuil yang identik dengan Laos. Kuil bernama bernama That Luang itu menjadi ikon negeri seribu gajah itu. Hal ini tak berlebihan, karena selain sebagai pusat spiritual, That Luang menjadi simbol kemerdekaan Laos dan kedaulatan sejak zaman Lane Xang, beberapa ratus tahun yang lalu. Konon, di stupa That Luang dahulu kala ada stupa kecil dari emas murni. Namun stupa emas itu dijarah pada saat invasi Haw pada akhir abad ke-19
Tetap setia dengan Kolaomatic 09, saya menuju Sungai Mekong. Jangan bayangkan sungai ini seperti Musi di Palembang. Sebab di siang hari Mekong kurang enak dipandang mata, karena dihiasi gundukan pasir yang baru dikeruk. Suasana pinggiran Mekong mulai hidup di malam hari, saat di sepanjang jalan di sisi sungai itu dipenuhi pedagang kali lima. Saat itulah, Sungai Mekong mulai dibanjiri turis-turis asing.


Nah di pinggiran Sungai Mekong, sekitar 24 km dari Vientiane, ada sebuah taman yang dipenuhi ratusan patung-patung Budha dan Hindu. Oleh warga Laos, taman yang dikenal dengan nama Budha Park itu, disebut Xien Khuan atau Kota Arwah. Beragam karakter patung Budha dan cerita Hindu ada di taman ini. Yang paling menarik perhatian adalah patung Buddha posisi berbaring dengan satu tangan menyangga kepala.
Puas menikmati objek wisata sejarah, Kolaomatic 09 saya arahkan ke sentra cendera mata khas Laos, Market Morning. Lucunya warga Vientiane banyak yang tidak tahu saat ditanya Market Morning, walau tulisannya tertera besar-besar di pasar tersebut. Wajar saja, karena disini sangat minim yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kalaupun bisa, hanya untuk percakapan dasar.
Di Market Morning, beragam cinderamata dapat kita dapatkan. Mulai dari kain khas Laos, gantungan kunci, baju bergambar gajah sebagai hewan nasional Laos, termasuk juga minyak kobra. Harganya juga beragam, ada yang mahal, tak sedikit pula yang miring. Enaknya, nilai mata uang Laos, Kip, sama dengan Rupiah. Sehingga tak pusing menghitung kurs, karena langsung bisa tawar menawar menggunakan kalkulator.



Satu lagi sisi menarik yang saya temukan di Laos. Untuk satu jenis barang, harga jualnya sama, apakah di mall (yang lebih mirip shoping centre daripada mall) atau pasar tradisional seperti Market Morning. Misalnya kerajinan kayu tempat pena dan kartu nama, baik di mall maupun Market Morning harganya sama, 40 ribu-50 ribu Kip. Harga itu masih bisa turun sedikit, tapi itu tergantung kepintaran pembeli menawar. Oke cinderamata sudah ada di tangan, saya beranjak meninggalkan Morning Market sambil mengucapkan salam khas warga Laos dan ucapan terima kasih, sabaidee......khop chai...lye...lye (baca: kopcai....lai...lai...)(**)

Senin, 17 Agustus 2009

Putihnya pasir Pantai Panjang Bengkulu



SALAH satu destinasi wisata di Kota Bengkulu adalah Pantai Panjang. Pantai dengan pasir putih yang hanya berjarak 3 km dari pusat Kota Bengkulu, layak dijadikan wisata andalan. Bagaimana tidak, jika ke Bengkulu tidak menikmati deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Panjang, serasa tak menapaki Bumi Raflesia secara sempurna.
Kunjungan saya ke Pantai Panjang kali ini, merupakan kunjungan kedua setelah pada 1997 silam. Saat itu Pantai Panjang yang terbentang sejauh 7 kilometer dan lebar 500-an meter dengan pantai yang landai, masih belum banyak tersentuh penataan. Semuanya dibiarkan “alami” dan apa adanya. Kalaupun ada bangunan wisata, hanya sekedarnya.
Pemandangan berbeda saya rasakan saat kembali menapaki pasir putih Pantai Panjang. Soalnya, kini suasana sudah amat berubah. Pantai Panjang benar-benar menjadi objek wisata andalan Bengkulu. Setiap sudut di pantai ini ditata guna menciptakan rasa nyaman bagi para pengunjung.



Tidak itu saja, untuk mencari tempat bermalam di sini juga sangat mudah. Karena di sepanjang pantai, kini berdiri sejumlah hotel berbintang dan cottage dengan fasilitas luks. Tidak itu saja, kini juga ada pusat hiburan malam, restoran, kolam renang dan tempat bermain anak-anak.
Sehingga wisatawan kini dapat menikmati nuansa alam Pantai Panjang dengan santai. Tinggal buka pintu hotel, pantai sudah ada di seberang jalan. Bahkan saat membuka tirai hotel, putihnya debur ombak sudah terlihat jelas.
Selain kemudahan mencari penginapan, wisatawan juga disuguhi berbagai atraksi menarik di Pantai Panjang. Mulai dari jetsky hingga banana boat. Pokoknya adrenaline wisatawan akan dipacu dengan atraksi-atraksi tersebut. Tapi bagi yang hanya ingin menikmati semilir angin pantai jangan khawatir, karena berbagai sarana juga tersedia.
Mau dengan naik delman atau jalan kaki. Pokoknya asyiknya tak terkira. Belum lagi atraksi gajah-gajah lucu yang siap membawa kita menyusuri kawasan pantai. Walau sudah ditata disana-sini, kesan alami Pantai Panjang masih terus dipertahankan. Apalagi deretan Pohon Cemara dan Pinus yang layaknya menjadi pagar penjaga pantai masih terawat dengan baik.



Menurut Ali, warga Bengkulu, Pantai Panjang kini menjadi tujuan wisata utama warga Bengkulu, bahkan dari provinsi tetangga, seperti Sumsel misalnya. “Setiap hari libur, banyak orang yang sengaja datang untuk menikmati suasana alami Pantai Panjang. Puncaknya sore hari, saat matahari terbenam. Banyak yang datang dengan keluarga, menggelar tikar, dan makan-makan bersama,’’ ujarnya.
Hanya saja, Ali masih menyayangkan penerangan di kawasan Pantai Panjang yang masih minim. “Kalau sudah malam, kawasan ini gelap gulita. Cahaya hanya datang dari deretan hotel itu saja. Sangat bagus jika penerangan di kawasan ini diperbanyak, sehingga pada malam haripun Nampak tetap cantik,’’ harapnya seraya menambahkan selain Pantai Panjang, di Bengkulu juga ada pantai lain yang menjadi objek wisata yakni Pantai Tapak Paderi dan Jakat. (**)

Fort Marlborough, warisan kolonial Inggris


JIKA berkunjung ke Bengkulu, serasa tak lengkap jika tidak menyambangi benteng peninggalan Inggris terbesar di Indonesia, Fort Marlborough. Benteng ini merupakan salah satu warisan masa kolonial Inggris di Bumi Indonesia yang masih bertahan hingga kini.
Benteng yang dibangun selama 6 tahun (1713-1719) pada masa Gubernur Joseph Callet berkuasa di Bengkulu, berdiri kokoh di atas dataran seluas 44.100,5 meter2, panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m, dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter. Benteng ini menghadap tepi laut, tepatnya Pantai Tapak Paderi.
Sangat gampang menuju benteng ini, karena masih di dalam Kota Bengkulu. Hanya dengan membayar Rp 2500 perorang, kita sudah dapat menjelajahi masa kejayaan perdagangan Inggris di Bengkulu. Karena selain aktifitas militer, benteng ini dulu juga dijadikan tempat koordinasi kelancaran suplai lada perusahaan dagang Inggris, East Indian Company (EIC), dan pusat pengawasan bagi jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.



Benteng Marlborough berbentuk kura-kura dengan kepala ke barat daya. Pintu masuk benteng mengarah ke barat, yaitu sisi mata kanan kura-kura dengan pintu masuk dan jembatan yang menghubungkan jalan masuk dengan bagian luar.
Pada bagian kepala dan badan dihubungkan dengan jembatan yang membentuk bagian leher. Pada bagian belakang benteng terdapat pintu masuk dari belakang dan sebuah jembatan di atas parit yang membentuk bagian ekor. Pada masanya, ketiga jembatan itu dapat diangkat dan diturunkan. Disekeliling benteng dari batas terluar dinding masih terdapat batas-batas asli berupa parit-parit.
Saat kita memasuki Fort Marlborough, kita disambut 4 buah nisan, yang dua diantaranya merupakan peninggalan masa Benteng York (benteng yang dibangun Inggris sebelum Benteng Marlborough). Pada nisan-nisan tersebut tertera nama George Shaw (1704), Richard Watts Esq (1705), Capt. James Coney (1737), dan Henry Stirling (1774).
Tak jauh dari nisan tersebut, kita disambut 3 buah makam. Menurut informasi, ketiga malam itu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Konon dulunya, Fort Marlborough juga menjadi tempat tinggal petinggi militer Inggris dan pegawai EIC.



Konon pada 1792 di benteng itu berdiam lebih dari 90 pegawai sipil dan militer. Sehingga bisa dikatakan, Fort Marlborough kala itu ibarat sebuah kota dalam benteng. Ini diperkuat dengan catatan-catatan perkawinan, pembaptisan, dan kematian, yang masih tersimpan rapi di dalam benteng ini.
Setiap bangunan di benteng ini mempunyai ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat tahanan, gudang persenjataan, perlengkapan dan kantor. Pada tiap kaki kura-kura (bastion) terdapat beberapa pucuk meriam, baik berukuran besar maupun berukuran kecil.
Pada bagian bawah bangunan kaki kura-kura bagian utara, terdapat terowongan yang berukuran panjang 6 m dan lebar 2 meter. Dalam bangunan terdapat lubang perlindungan yang dipergunakan sebagai jalan keluar dari kepungan musuh. Bagian tengah benteng terbuka tanpa atap, sedang lantainya terbuat dari ubin, batu kali atau karang sedang atap terbuat dari genteng.
Pintu gerbang dan pintu-pintu ruangan lainnya terbuat dari kayu yang diberi penguat berupa pasak-pasak besi. Sedangkan ruang tahanan menggunakan terali besi. Menurut sejarah, di salah satu ruangan ini, pernah ditahan Bung Karno. Namun disayangkan, kenikmatan mengenang masa lalu di benteng yang sangat bersejarah ini agak berkurang, karena bau pesing di sejumlah ruangan dalam benteng. (**)

Jumat, 13 Maret 2009

Indahnya panorama Pantai Cha Am


JIKA mendengar nama Pattaya atau Pukhet sebagai destinasi wisata di Thailand, pasti orang sudah lazim. Tapi jika disebutkan nama Pantai Cha Am, sebagian orang pasti merasa asing. Wajar saja, karena Cha Am tidak termasuk dalam kategori Thailand's famous atau pun top ten daerah wisata di sana. Padahal, Cha Am sebetulnya tidak kalah indahnya dengan Pattaya atau Pukhet.
Disela-sela meliput ASEAN Summit (IMTGT Summit) di Thailand, 28 Februari lalu, saya beberapa saat sempat menikmati indahnya panorama Pantai Cha Am. Untuk mencapai Pantai Cha Am cukup melelahkan. Dengan bus, pantai cantik itu baru bisa dijangkau dalam waktu sekitar 2 jam lebih. Wajar saja, karena jarak Cha Am dari Bangkok mencapai 200-an km.
Woddi, guide asli Thailand yang fasih berbahasa Indonesia, menjelaskan Cha Am ialah sebuah distrik di bagian Selatan Provinsi Phetchaburi, Thailand Tengah. “Distrik ini didirikan pada 1897 dengan nama Na Yang. Pada 1914 pusat distrik ini dipindahkan ke Ban Nong Chok (kini di distrik Tha Yang) dan berubah nama menjadi Distrik Nong Chok. Setelah Perang Dunia II, pemerintah memindahkan kantor ke Tambon Cha Am dan juga mengubah namanya menjadi Cha Am,’’ jelas Woddi.
Cha Am kian terkenal, lanjut Woddi, saat pada 1928, Raja Rama VII membangun istana dengan nama Glai Gangwon di Hua Hin, yang merupakan kota paling dekat dengan Pantai Cha Am. “Glai Gangwon kurang lebih bisa diartikan jauh dari keramaian atau pusat perhatian,’’ kata Woddi.
Sehingga sebetulnya, menurut Woddi, Pantai Cha Am sudah sejak 40 tahun lalu menjadi destinasi wisata, sebelum Pattaya dan Pucket mendunia. “Apalagi disini ada istana Raja Thailand,” kata Woddi. Saat tiba di Pantai Cha Am, saya mendapati pantai ini sesuai namanya Glai Gangwon, atau jauh dari pusat keramaian.
Karena kawasan Pantai Cha Am itu sepi dan lenggang. Tapi jika musim liburan atau di akhir pekan, menurut Woddi, pantai ini sangat ramai dengan berbagai aktifitas wisata. Bahkan tambah Woddi, Pantai Cha Am merupakan salah satu kawasan resort mewah di Thailand. Memang di sepanjang Pantai Cha Am banyak berdiri hotel dan resort mewah. Sangat mirip dengan kawasan Nusa Dua, Jimbaran, atau Tanjung Benoa di Bali, yang juga dipenuhi hotel dan resor bintang lima seperti Hyatt, Westin dan lain-lain.
Selain itu jalan-jalan di kawasan Pantai Cha Am dipenuhi penjual suvenir khas Thailand, termasuk beberapa kafe dan panti pijat Thai yang terkenal itu. Tapi jangan harap bisa menemui nightlife seperti di Pattaya.



Soal keindahan Pantai Cha Am tak usah diragukan, karena pasir putihnya yang tebal dan air birunya yang membentang indah. Hanya saja, kita tak akan menemukan ombak besar dan bergulung-gulung di pantai. Pasalnya, Pantai Cha Am relatif tak berombak, alunnya tenang dan hanya sedikit berbuih.
Beragam atraksi khas pantai dapat dijumpai di Pantai Cha Am. Mulai speedeboat hingga banana boat dan jetsky. Kalaupun malas berenang, kita dapat menyusuri pantai naik kuda atau bermain pasir. Jika ingin bermalas-malasan, di Pantai Cha Am juga banyak disediakan kursi malas untuk wisatawan bersantai sambil menikmati angin pantai.
Satu lagi keunggulan Pantai Cha Am, yakni makanan lautnya yang sangat terkenal. Selain di restoran, makanan laut juga dijual oleh pedagang kaki lima di pinggir pantai. Ingin udang atau cumi bakar, tinggal panggil penjualnya. Harganya tidak terlalu mahal, dijamin tak memberatkan kocek kita. Oh ya satu lagi, keunggulan lainnya Cha Am yakni menjadi tempat satu-satunya universitas Amerika di Thailand. Universitas Webster memiliki lebih dari 300 mahasiswa dari mancanegara. (**)

Rabu, 11 Maret 2009

Menikmati deburan ombak Chao Phraya


Bila berbicara soal Bangkok, ibukota Thailand , maka kita akan menemukan kesamaan dengan Kota Palembang, ibukota Sumatera Selatan. Ya, keduanya sama-sama dibelah sungai besar. Palembang dibelah oleh Sungai Musi, sedang Bangkok dibelah Chao Phraya. Walau memiliki banyak kesamaan, Palembang harus belajar banyak dari Bangkok dalam mengemas potensi wisata sungai yang di milikinya menjadi tujuan turis asing maupun lokal.
Nah, dalam kesempatan meliput ASEAN Summit ke 14 (IMTGT Summit) di Bangkok, saya bersama 7 wartawan cetak Palembang didampingi Kabag Humas Pemprov Sumsel Thontowi HE Permana, Staf Protokol Hero serta Daniel dan Merry dari Southern Tour & Travel, 26-28 Februari menjejaki sejumlah objek wisata air andalan negeri yang kini diperintah oleh Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit ini.
Chao Phraya kerap juga disebut King River karena panjangnya. Chao Phraya adalah sungai utama di Thailand dengan panjang sekitar 372 kilometer. Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan dari empat sungai kecil Ping, Wang, Yom, dan Nan di daerah Nakhon Sawan yang berada di wilayah utara Thailand, dan bermuara di Teluk Thailand.
Sungai Chao Phraya berfungsi mulai untuk irigasi, pasar terapung, dan menjadi tulang punggung transportasi penduduk sekitar melalui kanal-kanal yang ada. Sungai ini menjadi sarana transportasi yang sangat vital sejak Kota Bangkok didirikan pada 1782. Denyut nadi kehidupan Bangkok ada di sungai itu.
Saat melihat Chao Phraya, suasana takjub langsung menerpa. Bagaimana tidak sungai yang sebetulnya tidak lebih lebar dari Sungai Musi itu, benar-benar tertata apik sebagai sebagai objek wisata andalan.



Tepian sungai Chao Phraya didam rapi, dan dipagari sejumlah bangunan megah serta gedung pencakar langit. Sepanjang mata melihat, tidak ada bangunan kumuh yang ada di pinggiran sungai. Semuanya bersih dan rapi. Untuk merasakan lebih dekat Chao Phraya , kami naik ke sebuah perahu wisata dan menyusuri sungai tersebut. Kesan lain yang kami tangkap adalah bersihnya Sungai Chao Phraya.
Wisatawan tak sekali pun mencium bau busuk di Chao Phraya atau kanal-kanalnya. Tidak ada sepotong sampah atau eceng gondok, yang di Sungai Musi menjadi suguhan lazim. Wajar saja, karena budaya hidup bersih sudah tertanam erat di dada warga tepian Chao Phraya.
Menurut Wodi, tour guide asli Bangkok yang fasih berbahasa Indonesia, warga tepian Chao Phraya sudah lama dibiasakan tak membuang sampah rumah tangga ke sungai.
“Sampah diletakkan di depan rumah, dan diambil oleh petugas yang khusus ditugaskan untuk itu. Selain itu, ada kapal yang setiap hari khusus disiagakan membersihkan sungai,’’ jelas Wodi. Satu catatan lagi, tidak ada wc “helikopter” yang nangkring di pinggir sungai seperti di Palembang. Sebab di Chao Phraya, rumah warga umumnya menghadap ke sungai. Tidak seperti di Palembang yang menjadikan sungai halaman belakang rumah mereka. Sungguh hal yang patut ditiru.
Karena bersihnya Sungai Chao Phraya, ikan-ikan dari berbagai jenis tampak jelas bebas berenang. Wargapun tidak tampak menangkapi ikan itu, bahkan menjadikannya salah satu objek wisata. Wisatawan dapat memberi makan ikan dengan roti yang dijual di perahu, dengan harga 20 bath satu bungkus. Apalagi ada pantangan menangkap ikan di depan kuil yang berjejer di pinggir Chao Phraya.



Keunggulan lain Chao Phraya, adalah menjadi sarana transportasi alternatif warga Bangkok. Bangkok selain dikenal dengan sky train dan subway-nya, juga sukses menjadikan bus air sebagai sarana transportasi alternatif. Di sepanjang Chao Phraya dibangun sejumlah dermaga bus air. Sehingga warga Bangkok yang hendak berpergian, lebih memilih naik bus air. Murah dan dijamin tak terjebak kemacetan.
Selain menikmati bersihnya Sungai Chao Phraya, di sepanjang sungai itu wisatawan juga dimanja dengan berbagai bangunan unik dan bersejarah. Ada Candi Budha seperti Temple of Dawn atau Wat Arun, Wat Mahathat yang merupakan pusat kesarjanaan Budha, dan Wat Kalayanam. (**)

Selasa, 10 Maret 2009

Uniknya ornamen Candi Wat Arun




Wat Arun Ratchwararam Temple adalah bangunan candi yang berdiri 1872. Sebuah Pagoda yang dibangun Raja Taksin dari Cina yang kemudian diperbesar raja ke 2 Thailand hingga memiliki ketinggian 66 meter. Wisatawan yang mendarat di dermaga, disambut ramah oleh para guide atau pedagang kaki lima yang umumnya warga sekitar. Mereka dipersilahkan masuk ke areal kuil yang letaknya agak tinggi dan dilingkupi pepohonan rindang.
Di dalam komplek itu, terdapat bangunan kuil dengan ornament unik dan amat cantik. Walau jika dibandingkan Borobudur atau Prambanan komplek Wat Arun lebih kecil, tapi penataan menjadi kawasan wisata tidak kalah. Di pagoda warna keperakan ini kita bisa menyaksikan piring-piring porselin ratusan tahun lalu yang ditempel ke dinding kuil.
Karena memiliki ketinggian 66 meter, untuk mencapai bangunan puncak wisatawan harus meniti tangga curam dengan kemiringan hampir 80 derajat. Hanya orang yang “nekad” saja yang mau naik ke atas. Karena saat sudah diatas, walau disuguhi pemandangan indah Chao Phraya , dijamin wisatawan akan takut turun.
Puas dan mandi keringat usai naik ke puncak Wat Arun, kami disuguhi beragam souvernir khas Wat Arun dan Bangkok yang dijual di semacam pasar kecil di samping kompleks candi Budha itu. Topi, gantungan kunci, kipas, barang-barang gerabah, dompet, selendang besar. pakaian sutra model koko, kaos, hingga batu-batu tasbih untuk muslim. Semuanya berkisar 10 bath hingga 1000 bath.
Soal harga tak perlu khawatir, karena disini harga lebih miring dan dijamin keasliannya. Berbeda dengan mall atau toko modern yang menyediakan barang-barang aspal (asli tapi palsu), Wat Arun mengetengahkan produk asli Thailand . Bagi wisatawan Indonesia yang tak mengantongi bath tak perlu khawatir, karena disini mata uang rupiah laku. Untuk 1 lusin kaos bermotif tulisan Bangkok , gajah atau Wat Arun dengan rupiah dihargai Rp 300 ribu. Tapi jika pakai bath, untuk 1000 bath dapat 14 potong kaos. Jika dihitung, harga itu relatif sama dengan di negeri sendiri.
Selain kemudahan yang diterima rupiah, satu lagi yang patut ditiru adalah kemampuan para pedagang melayani wisatawan. Mereka mampu membuat wisatawan yang pada awalnya hanya melihat-lihat, akhirnya membeli souvenir. Mereka lihai dalam taktik berhadapan dengan pelanggan. Sopan, sabar, dan benar-benar menjadikan pembeli adalah raja.



Nilai plus lainnya, umumnya pedagang disini agak fasih berbahasa Indonesia. Mereka akan dengan cepat mengali-ngali baht ke mata uang rupiah. Benar-benar seperti di Indonesia. Menurut Nhok Cun, warga Bangkok keturunan Cina, para pedagang dan pebisnis di Bangkok saat ini punya kewajiban belajar bahasa Indonesia.
“Karena wisatawan Indonesia sangat banyak ke sini. Sehingga kami berusaha belajar dan mengerti bahasa mereka,’’ kata Nhong yang mengaku sedang belajar bahasa Indonesia ini.
Saat hendak menyudahi kunjungan ke Wat Arun, kami mendapatkan surprise. Beberapa pedagang memajang piring antik bermotif Thai dengan foto kita di tengahnya. Foto itu diambil saat kita tiba kali pertama di dermaga Wat Arun. Satu piring harganya 200 baht. Yang ini boleh ambil boleh tidak. Tapi siapa sih yang tak mau mengambil foto close up sendiri yang sudah menempel di piring berhiaskan lambang Thailand ? Ini kan barang kenang-kenangan.
Melihat Wat Arun, kami teringat dengan objek wisata di Sungai Musi yang sekilas sama yakni Pulau Kemaro. Di pulau yang ada di Sungai Musi itu, juga ada vihara tua dan bangunan pagoda yang tak kalah cantiknya. Namun objek wisata itu baru menunjukkan gairahnya setahun sekali, saat peringatan Cap Go Me. Dengan penataan seperti Wat Arun, bukan tidak mungkin hal serupa dapat terwujud di Pulau Kemaro. Apalagi Pulau Kemaro punya nilai lebih dari Wat Arun, yakni berada di tengah-tengah sungai. (**)

Kamis, 20 Desember 2007

“Wisata” unjuk rasa di Malaysia


MALAYSIA sebagai jiran Indonesia, tak pelak saat ini menjadi salah satu tujuan wisata utama wisatawan asal Indonesia. Selain masih serumpun, Malaysia dinilai mampu menghadirkan jiwa pemandu wisata di dalam diri warganya. Bahkan ditengah unjuk rasa sekalipun, warga Malaysia tetap memposisikan wisatawan sebagai tamu. Sungguh keramahan tuan rumah yang patut ditiru.
Bicara soal Malaysia, pada 21-26 November 2007 lalu saya bersama 2 rekan jurnalis Palembang yakni Wiedarto dan Citra, kembali mendapat kesempatan menjejakkan kaki ke Malaysia. Bersama atlet polo air dari Akademi Akuatik Sekayu (ASA) yang hendak tryout dengan klub Malaysia, saya tiba di Kuala Lumpur. Karena penerbangan Air Asia termasuk “paket hemat”, maka rombongan Muba mendarat di low cost carrier terminal (LCCT). Walau low cost, tapi dari segi pengawasan tetap seketat terminal bandara internasional biasa.
Di negara ini, saya dan rombongan menginap di sebuah hotel megah, Radius International. Hotel berbintang ini, terletak di kawasan Bukit Bintang. Dari hotel, saya sudah bisa menikmati dua bangunan monumental dan menjadi landmark Kuala Lumpur, yakni Kuala Lumpur (KL) Tower dan Petronas Tower yang juga kerap disebut dengan Kuala Lumpur City Centre (KLCC).
Walau terlihat jelas menyembul dari balik gedung pencakar langit, namun sebetulnya letak KL Tower dan Petronas Tower lumayan jauh. KL Tower ada di kawasan Bukit Nanas agak jauh dari Bukit Bintang, sedang Petronas Tower hanya beberapa blok jauhnya. Kata orang jika tidak mengunjungi kedua landmark tersebut berarti belum ke Malaysia.
Bila berbicara soal KLCC, saya memiliki pengalaman yang tak mungkin bisa dilupakan. Niat hati mau foto-foto di objek wisata itu, Minggu (25/11) saya justru terjebak dalam bentrokan antara 10 ribu warga India dan ribuan polisi Malaysia. Nah, dalam peristiwa inilah, baru terlihat kesiapan warga Malaysia menerima wisatawan asing.
Awalnya saya tak tahu kalau di KLCC ada unjuk rasa. Bersama wartawan lain, saya berjalan kaki melintasi setidaknya 3 blok dari hotel. Rasa aneh mulai menyergap, saat melihat kerumunan orang-orang India. Dengan perasaan ingin tahu, Saya pun mendekati kerumunan orang India yang amat banyak jumlahnya.
Kerumunan itu tampak bergerak ke arah KLCC. Saya baru sadar itu unjuk rasa yang amat diharamkan pemerintah Malaysia, saat mendengar yel-yel dan nyanyian lelaki, wanita, tua, dan muda, yang juga ditingkahi dengan pengibaran bendera Malaysia.
Gatal ingin mengabadikan demo itu, saya pun mengeluarkan kamera digital dan mulai mendekati ke barisan terdepan. Selain saya, sejumlah turis bule melakukan hal yang sama. Para pengunjuk rasa yang aksinya menjadi objek wisata dadakan, tak tampak marah. Karena hitung-hitung aksinya diliput gratis.
Seorang ibu yang mengira saya wartawan –padahal memang demikian--, menjelaskan panjang lebar mengenai alasan mereka turun ke jalan. “Kami warga India selalu dijadikan warga kelas ketiga. Posisi top ekonomi dipegang orang Cina, sedang politik orang Melayu. Padahal kami juga warga negara Malaysia. Tapi aksi kami damai dan tidak akan merusak,’’ ujar ibu itu.
Seorang lelaki India lain, tampak sangat senang saat saya mengabadikan aksi unjuk rasa itu dengan kamera. “Bagus, ambil gambarnya. Masukkan ke situsmu di internet. Sebarkan ke seluruh dunia, bahwa di Malaysia ada ketidakadilan,’’ ujarnya.



Keadaan mulai kacau, saat ratusan Polis Diraja Malaysia menembakkan gas air mata, water cannon, plus pukulan rotan. Posisi saya dan pengunjuk rasa India terjepit, karena ternyata ratusan polisi sudah mengepung kawasan persimpangan Jalan Ampang, Jalan Tun Abdul Razak dan KLCC tersebut. Tak urung, gas air mata sempat mengenai wajah saya.
Dalam kondisi kacau karena merasakan mata pedih dan tenggorokan sakit terkena asap gas air mata, seorang warga India yang tahu saya adalah wisatawan mempersilahkan berjalan menuju arah hadangan polisi. “Silahkan jalan ke arah depan, tidak apa-apa. Aman kok, karena ini masalah kami dan polisi. Wisatawanan asing aman,’’ ujarnya. Walau masih ragu, saya pun berlari ke arah barikade polisi yang berada persisi di depan KLCC.
Melihat saya yang tidak berkulit hitam, polisi tahu kalau yang mendekat adalah turis. Dengan ramah walau tetap bernada tegas, mereka memberi saya jalan. “Ayo cepat dan hati-hati,’’ ujar mereka. Akhirnya saya bisa masuk KLCC dan baru bisa keluar setelah keadaan terkendali.
Belajar dari peristiwa itu, sektor wisata tampaknya secara langsung sudah menjadi darah daging bagi warga Malaysia. Bagaimana tidak, saat unjuk rasapun orang Malaysia tetap memposisikan wisatawan sebagai tamu yang harus diutamakan. Wah, sebuah keramahan yang patut kita ditiru. Tapi di sisi lain, saking getolnya berusaha menjadi tuan rumah dan objek wisata yang baik, Malaysia dengan cueknya “mencuri” seni Reog Ponorogo dan Lagu Rasa Sayange yang sejatinya milik bangsa Indonesia. Nah, yang itu tak patut kita tiru.
Puas “meliput” aksi demo, saya malam harinya menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh khas Malaysia di Petaling Street yang terletak di China Town. Di ruas jalan bak Lorong Basah ini, dapat ditemukan berbagai macam cinderahati, istilah orang Malaysia untuk cinderamata. Mulai dari kaos bertuliskan Malaysia, gantungan kunci, korek api, hingga miniatur landmark Malaysia.
Harganya murah. Jika ingin lebih murah, cukup datang ke pasar malam yang ada di Bukit Bintang, dekat Radius International Hotel. Memang tidak sebanyak di Petaling Street, tapi kios dadakan di pasar malam itu lengkap menjual cinderamata Malaysia dengan harga lebih miring. “Ya, waktunya berburu cinderamata untuk menghabiskan ringgit,’’ batin saya. (**)

Sabtu, 15 Desember 2007

Dari Suvarnabhumi ke Kasetsart University



KUNJUNGAN ke Bangkok, Thailand, bersama rombongan atlet polo air Akademi Akuatik Sekayu (AAS), 21-26 November lalu, merupakan kunjungan kali kedua saya ke negeri yang diperintah oleh Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit itu. Soalnya akhir 2005 lalu, saya pernah berkunjung ke Bangkok. Banyak sekali perubahan di Bangkok yang mencengangkan saya. Mulai dari bandaranya yang kian “wah”, diterimanya Rupiah di salah satu bank Thailand, hingga sangat lengkapnya fasilitas olahraga di Kasetsart University. Nah, berikut catatan perjalanan saya di negeri Gajah Putih tersebut.
Dengan pesawat Airbus A320 maskapai Air Asia, saya bersama 2 rekan wartawan Palembang dan rombongan ASS tiba di Bangkok. Saat berkunjung ke Thailand 2 tahun lalu, saya mendarat di bandara internasional Don Muang. Kali ini, Saya disambut dengan kemegahan bandara baru Thailand, Suvarnabhumi.
Suvarnabhumi dibaca dalam Bahasa Thai diucapkan Suvarna-poom. Suvarnabhumi bagi telinga kita sangat akrab, karena dekat dengan julukan Pulau Sumatera yakni Swarna Dwipa. Keduanya sama-sama punya arti pulau/bumi emas.
Bandara internasional Suvarnabhumi sangat megah. Sebuah megaproyek yang digagas oleh Perdana Menteri Thailand terdahulu, Thaksin Sinawatra, benar-benar hebat. Bandara yang informasinya mampu menampung 45 juta penumpang setahun dan diproyeksikan dalam beberapa tahun nanti kapasitasnya membengkak menjadi 58 juta orang penumpang, adalah bandara supersibuk dan lengkap dengan beragam fasilitas yang amat wah.
Letak Suvarnabhumi sekitar 28 km di Timur Bangkok. Sedang Don Muang, airport lama, letaknya 24 km di Utara Bangkok. Bandara Suvarnabhumi resminya dibuka 28 September 2006 setelah 45 tahun menunggu. Konstruksinya unik tapi simpel, karena didominasi bahan panel aluminium dan kaca mulai lantai dasar hingga lantai kedua. Arsitekturnya futuristic, walau sentuhan khas Thailand masih nampak kental.
Di setiap sudut bandara, pasti ada ornamen khas Thailand. Bahkan di beberapa bagian, patung raksasa khas Thai nampak kian mempertegas tingginya kekayaan budaya negara tersebut. Setiap bagian di bandara ini dihubungkan dengan eskalator dan lift, yang kembali didominasi kaca dan kaca. Saya kian berdecak kagum, saat melihat ruang kedatangan yang amat megah. Belum lagi ruangan utama bandara Suvarnabhumi yang sangat luas dan lengkap.
“Wah, bandara Soekarno-Hatta dan SMB II yang sudah begitu megah, masih kalah bila dibandingkan bandara Suvarnabhumi,’’ batin saya. Puas menikmati bandara yang katanya dibangun dengan dana 150 miliar Bath tersebut, saya dan rombongan naik bus menuju hotel yang ada di agak pinggir Kota Bangkok. Memang rombongan sengaja memilih hotel tersebut, karena dekat dengan Kasetsart University, tempat klub polo air Chulabhron yang akan dijajal tim polo air Muba.
Setelah istirahat, esok sorenya saya dan rombongan bergerak ke Kasetsart University. Sama saat tiba di bandara Suvarnabhumi, saya tak putus-putus berdecak kagum saat masuk ke kompleks Kasetsart University. Bagaimana tidak, di dalam kompleks kampus tersebut saya melihat lengkapnya beragam sarana olahraga. Mulai dari stadion sepakbola, soft ball, atletik, renang, hingga berbagai hall yang dipenuhi orang berolahraga.



Kondisi serupa juga tampak saat masuk ke dalam kolam renang Chulabhorn. Kolam yang menjadi venues cabang akuatik ASIAN Games ke 8 tahun 1978 tersebut, memiliki 5 buah kolam renang plus 1 menara loncat indah. Dari 5 buah kolam, 2 kolam renang yang dipayungi atap. Semakin malam, kelima kolam renang itu dipadati orang beragam usia, mulai anak-anak hingga dewasa. Tak hanya sarana olahraga akuatik, di komplek kolam renang itu juga ada kantin yang amat lengkap isinya. Sehingga orang yang lelah berenang, dapat langsung melepas letih di dalam kantin.
“Perhatian pemerintah kami terhadap pembinaan olahraga sangat besar,’’ ujar pelatih klub polo air Chulabhorn Aquatic Club, Bangkok, Pinate Perkasame. Apa yang dikatakan pimpinan di salah satu bank swasta di Thailand ini sangat beralasan, jika melihat banyaknya sarana olahraga di negara kerajaan yang bulan ini sedang menggelar perhelatan SEA Games.
Satu lagi hal menarik yang saya dapatkan di Bangkok. Saat ini mata uang Indonesia sudah diterima salah satu bank Thailand, Siam Commercial Bank. Dua tahun lalu, saya hampir “mati kelaparan” karena mata uang Rupiah tak diterima saat hendak ditukarkan dengan Bath. Tapi perbandingan tukarnya sangat jauh. Dari kurs normal 1 Bath untuk Rp 300, bank itu menetapkan Rp 400 untuk 1 Bath.
Walau agak kesal karena uang di kocek yang kian menipis, saya terpaksa mau menerima jumlah tersebut. “Daripada kelaparan lagi,’’ ujar saya dalam hati. Nah, perkembangan Bangkok lainnya sejak 2 tahun lalu, yakni kian banyak jalan tol, fly over, hingga under pass yang bertebaran di setiap sudut kota. Bahkan menurut seorang sopir lokal, Bangkok juga kerap disebut kota seribu jembatan. Mungkin karena saking banyaknya jembatan di kota itu.
Karakter penduduknya tetap sama. Selalu berusaha bersikap ramah walau tidak mengerti dengan Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Indonesia. Sebagai catatan warga menengah ke atas di Thailand umumnya bisa berbahasa Inggris. Tapi tidak dengan warga menengah ke bawah. Karena bagi mereka, Bahasa Thailand adalah segala-galanya. Bahkan demi menunjukkan jati diri bangsa, papan reklame dan nama toko di semua sudut kota ditulis dengan huruf Thai besar-besar. Kalaupun ada aksara latin, ukurannya sangat kecil dan sedikit jumlahnya. (**)